Pewarna ungu sangat berharga karena sulit diproduksi. Bahkan sejumlah kecil jutawan hanya mampu miliki beberapa helai sutra ungu saja. Hanya keluarga kerajaan Estia dan Byun Gyongbaek dari Oberde yang miliki cukup kain ungu untuk dipakai.
Itu adalah simbol utama kekayaan dan kekuasaan. Bahkan sepotong kecil pun akan sangat berharga.
"Itu lebih cerah dan indah dibandingkan sutra ungu lainnya yang pernah saya lihat sebelumnya." dia ngenang dengan sedih. Tidak ada kata-kata yang benar-benar dapat nggambarkan kehebatannya karena ia hanya mampu nggambarkan kesempurnaannya. "Ini seperti matamu." dia nambahkan setelah berpikir, dan Leah rasakan ujung telinganya rah karena pujian itu.
Tapi saat Leah berusaha nghilangkan rasa malunya, Count Valtein hanya terus ngoceh.
"Tentu saja aku nolak hadiah itu. Katanya itu hadiah, tapi tentu saja tidak gratis. Aku tidak tahu apa yang akan dia minta sebagai imbalan atas bantuannya, tetapi aku dengan tegas nolaknya." dia yakinkannya, wajah periangnya berubah serius. ski begitu, dia bisa lihat sedikit penyesalan karena harus nolak hadiah yang begitu luar biasa.
Count Valtein selalu suka berdandan. Dia selalu update dengan tren fashion terkini di kota dan sering ngunjungi toko penjahit. Dulu dia sangat senang ketika sesuatu yang dia buat njadi begitu populer. nolak hadiah berharga Ishakan sangat berarti bagi Count Valtein.
"Terima kasih." Leah berkata dengan bisikan penuh syukur, sebelum Count Valtein nggelengkan kepalanya dan tersenyum padanya dengan yakinkan.
"Jangan katakan itu. Aku hanya lakukan apa yang benar." Count Valtein nggelengkan kepalanya seolah ingin lepaskan diri dari kerinduan akan sutra ungu. Dia terus berbicara dengan wajah serius. "Bagaimanapun, saat dia nghubungiku, aku tidak akan terkejut jika dia bertemu dengan bangsawan lain juga. Kamu harus berhati hati." dia mperingatkan.
Kata-kata Count Valtein mang benar, tapi ini hanya sebagian kecil dari kebenarannya.
Di masyarakat reka, Count Valtein adalah salah satu dari jenisnya. Ada lebih banyak bangsawan dan bangsawan yang akan ngambil hadiah itu tanpa berpikir dua kali, dan dengan demikian, akan berhutang budi kepada orang-orang Kurkan. Untuk saat ini, yang bisa reka lakukan hanyalah ngawasi bangsawan mana pun yang secara tidak biasa ndukung suku Kurkan selama rapat kabinet.
"Orang Kurkan mbuatku takjub," lanjut Count Valtein, "nyuap orang lain dengan benda yang begitu gah. Saya yakin reka bahkan bisa nyuap seseorang dengan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada permata atau emas." Leah ngerutkan kening padanya dengan khawatir sebelum nyetujui.
Tetap saja, dia ragu hanya sepuluh gulungan sutra ungu yang reka miliki. Kekayaan suku Kurkan di gurun pasir dikabarkan tak terbayangkan. Bagi reka, kain tersebut mungkin rupakan komoditas yang tak ternilai harganya, namun bagi reka yang mproduksi kain tersebut, hal tersebut tidak akan ngurangi pasokan reka.
Setelah nebak pikirannya, Leah sekali lagi noleh ke Count.
"Kami juga tidak dapat ngesampingkan bahwa orang Kurkan tahu cara mbuat sutra ungu ini."
Saat Count hendak mberikan jawabannya, perjamuan itu hening, seolah-olah nyiram api dengan seember air. Terjadi pergeseran di udara, saat semua mata tertuju pada pintu masuk, dan bukan hanya reka berdua.
Bisikan dimulai ketika reka nyadari siapa yang telah mikat semua orang...
"Orang-orang barbar..." Leah bisa ndengar dari kejauhan saat orang-orang Kurkan, tamu terhormat reka, akhirnya muncul.
reka semua ngenakan jubah tradisionalnya, warnanya gelap, sangat kontras dengan pakaian Estia yang berwarna cerah. Tak heran jika hal itu narik perhatian banyak orang. ski rupakan pakaian upacara, namun keganasan dalam setiap gerakannya tidak bisa dipungkiri.
Dari penampilan reka, cara reka berdiri, berjalan dan ngangkat dagu tinggi-tinggi, reka lebih dari sekedar manusia biasa. Dan yang mimpin rombongan tidak lain adalah Ishakan sendiri.
Mata reka nyapu ruang perjamuan, ngingatkan Leah akan predator yang masuk tanpa izin ke wilayah orang lain.
Beberapa bangsawan di sekitar tidak bisa nahan diri untuk tidak bergeming ketika pandangan reka tertuju pada reka.
Namun yang paling narik perhatian adalah jubah upacara Ishakan. Kerahnya bergaya Kurkan tradisional, kain hitamnya disulam dengan benang emas, yang belum pernah terlihat di Estia. Tapi itu bukanlah bagian yang paling narik.
TIDAK.
Itu adalah sutra ungu yang dia kenakan seperti selempang, yang direntangkan di badannya. Pola hiasan berserakan di seluruh hamparan sutra, cahaya terpantul dari permukaannya setiap kali nyentuhnya. Leah, yang jarang ncari kewahan hidup, mau tidak mau juga ndambakannya. Sekarang dia bisa lihat apa yang mbuat Count Valtein sedih.
Sutra ungu Kurkan adalah yang terbaik di seluruh benua.
Begitu terpaku pada sutra itu, dia tidak nyadari bahwa dia sedang natap sampai dia ndongak dan bertemu dengan tatapan penuh pengertian dari Ishakan. Dia nahan pandangannya sejenak sebelum ngalihkan pandangannya dan berpikir untuk lanjutkan percakapannya dengan Count.
Saat dia noleh ke Count Valtein, dia terkejut dengan tatapan tajam di matanya, ngikuti seseorang di depannya.
Apakah dia lototi Ishakan?? Dia bertanya-tanya. Matanya natap tajam ke depan, yang ndorongnya untuk lakukan hal yang sama ketika bayangan gelap muncul di depannya, yang mbuatnya terkesiap.
Mata emas natapnya, seringai terlihat jelas di wajahnya.
"ngapa kamu nghindari tatapanku?" dia bertanya padanya sambil ndekat, "Aku tahu kamu lihatku." dia mberitahunya.
Leah lihat sekelilingnya dengan gugup, tidak tahu harus berkata apa kepadanya di depan tatapan banyak orang. Ini hanya mbuat Ishakan nyeringai lagi saat dia dengan lembut gang tangannya.
Para bangsawan di dekatnya narik napas, beberapa bahkan tersentak. Bahkan Count Valtein tidak dapat mpercayai sikap tidak hormat ini saat dia nahan napas...
Dia nundukkan kepalanya, ngangkat tangannya ke mulutnya dan mberikan ciuman lembut pada buku-buku jarinya yang pucat.
"Kau ngecewakanku, tuan putri." dia berbicara, ketika semua orang di sekitar reka nyaksikan dengan napas tertahan.
Reviews
All reviews (0)