Font Size
15px

Dia ingin ndekat, tapi jalanan yang basah oleh darah mbuatnya berhenti.

Lututnya berubah njadi jeli, dan aroma darah talik nguar di hidungnya, mbanjiri dirinya saat datang ke empat arah.

Ishakan bergerak dengan cepat dan anggun, sehingga reka kesulitan ngikutinya. Dia muncul di belakang salah satu ksatria, yang ngejar Leah, dan matahkan lehernya dengan cepat sebelum nebas ksatria lain yang berada di dekatnya.

Dia dengan cepat runduk, nghindari ksatria yang datang dari belakang, dan raih lengannya, mbalikkannya, dan njepitnya. Tiba-tiba terdengar suara lengkingan keras seiring dengan retaknya tulang, lalu dia berpindah ke sisi lainnya.

Darah netes dari jari-jarinya, tapi sebelum setetes pun nyentuh lantai, dia sudah mbunuh ksatria lain, rcikkan lebih banyak darah. Satu demi satu para ksatria tumbang, sampai reka semua musnah, dimusnahkan oleh mangsa yang reka anggap sebagai mangsanya. reka dikalahkan oleh Raja Kurkan.

Dan dari kilatan mata emas Ishakan, dia jelas nikmati sensasi pembunuhan itu.

Leah nyaksikan semuanya, tangannya nutup mulutnya saat dia ncoba redam desahan keheranannya. Itu nyebarkan sensasi yang nggembirakan ke seluruh tubuhnya. Orang Kurkan dikatakan miliki kemampuan fisik yang lebih besar daripada orang normal, tapi dia tidak nyangka reka akan sekuat ini.

Raja bahkan nyaris tidak ngeluarkan keringat, napasnya tetap ada skipun ada banyak orang yang dia lawan. Tidak ada goresan di tubuhnya, tapi dia bermandikan darah ksatria yang dibawa Byun Gyongbaek bersamanya.

Tiba-tiba, Leah mikirkan tentang para ksatria Estia. Karena reka sudah hidup dalam damai begitu lama, reka tidak repot-repot moles keterampilan atau senjata. reka tidak pernah bisa berharap untuk lawan kekuatan bangsa Kurkan.

Jika perang pecah, dia mungkin akan terpaksa berlutut, mohon agar Byun Gyongbaek tetap hidup. Dan jika itu terjadi, Estia akan berada di bawah kekuasaan Byun.

Saat dia sadar, Leah tersadar dari pikirannya saat suasana suram nyapu dirinya.

Harapan terakhir Estia terletak pada perjanjian damai. reka harus segera nutupnya dengan pasukan Kurkan tanpa penundaan lebih lanjut.

****

Malam ini terasa lebih lama dibandingkan malam-malam sebelumnya.

Blain berdiri di bawah langit malam, nghirup udara dingin dalam-dalam saat dia lihat ke langit yang gelap. Dengan bulan yang nyinari rona peraknya yang biasa, ia lukis langit dengan cahaya redup, ngingatkannya pada seseorang.

ski ngetahui warna reka kira-kira sama, mau tak mau dia rasa rambutnya hanya miliki keunikan baginya. Tidak peduli seberapa keras dia ncoba nemukannya pada sesuatu yang lain, dia tidak akan pernah bisa ncapainya.

Matanya tetap terpaku pada bulan, ngamatinya hingga awan bergulung nutupi cahayanya. Dia ngalihkan pandangannya, perlahan-lahan ngangkat cangkir anggur setinggi matanya saat dia lihat cairan gelap itu ngalir dan berputar, sebelum mbawanya ke bibirnya dan nenggaknya dalam satu tegukan hingga tidak ada setetes pun yang tersisa.

lihat dia nyelesaikannya, Blain nyisihkannya

"Bisul." Dia ndengar suara lembut manggil dari belakangnya, dan dia noleh untuk lihat.

"Ibu," dia ngakui. Tapi sentara ekspresinya lembut dan tersenyum, penuh cinta untuk putra satu-satunya, wajah Blain hanyalah tanpa emosi. Dia hanya berkedip padanya, bahkan tidak mberikan senyuman sebagai balasannya.

Reaksi yang dingin sekali, tapi Cerdina tidak keberatan.

"Apa kamu sudah selesai?" dia bertanya padanya, dan dia hanya nyodorkan gelas kosong itu ke arahnya. Cerdina natap piala yang kosong, dan mperbaiki syalnya, nariknya ke atas bahunya, sebelum berbicara sekali lagi.

"Kita akan masuk angin di sini, ayo masuk," katanya padanya, tapi Blain tidak bergerak. Dia hanya tetap di tempatnya, bersandar di atas pagar, sambil terus natapnya. Segera awan ninggalkan bulan, akhirnya nampakkan cahayanya sekali lagi.

Cahayanya mantulkan rambut keperakan Blain, nciptakan kilau yang indah.

Rambut perak, tanda yang dimaksudkan untuk takhta. Sungguh luar biasa, ia berkilauan di bawah sinar bulan. natap putranya dengan kagum, Cerdina nahan tatapannya dengan senyuman lembut.

Seolah rasakan ke mana dia mandang, Blain ngusap rambutnya.

"Apa yang terjadi jika perjanjian damai diamanden?" Dia bertanya sambil nahan tatapan hangatnya dengan tatapan dingin dan penuh perhitungan. "Akankah pernikahan Byun Gyongbaek dan Leah terjadi?"

Cerdina hanya mberikan senyuman penuh pengertian, langkah ke arahnya dengan mantap, dan nangkup pipinya dengan lembut, "Saat kamu njadi raja," dia mulai, angin mbawa suaranya. "Jika itu terjadi, maka semua yang kamu inginkan, semua yang ada di kerajaan ini akan njadi milikmu, Yang Mulia."

Blain mberinya senyuman singkat, dalam kegugupannya, dia nggerakkan lengannya, secara efektif njatuhkan kaca kosong itu, yang pecah berkeping-keping ketika nghantam dan berbatu. Cerdina mperhatikan potongan-potongan itu berserakan, sebelum ngalihkan pandangannya kembali padanya.

"Milikku?" dia bertanya, "Bukan milik Byun Gyongbaek?" Dia bisa rasakan kemarahan luap dalam dirinya, tapi Cerdina sudah nduga ini.

Senyumannya masih tetap ada, begitu lembut dan enak dipandang. Bibir rahnya tetap seperti saat pertama kali masuki tempat Blain.

"Oh, anakku tersayang," rayunya padanya, tersenyum seperti bidadari, tapi Blain tetap lototinya, penuh kebencian dan penghinaan. Cerdina hanya mberinya senyuman cerah.

"Jangan khawatir tentang apa pun, aku akan ngurus semuanya."

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 31: Sensasi Pembunuhan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Abandoned Woman Busy Farming cover
Similar genre

Abandoned Woman Busy Farming

Qingka ·Romance

Thecharmoffarminglifeinspringtimeisprofound. Transmigratedintothelifeofapregnantabandonedwife,BaiRuozhuresolvedtoliveofftheland,thewater,andthespac...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.