Begitu saja, Ishakan nggendong Leah ke dalam pelukannya untuk nemui Count Weddleston. Di belakangnya, Haban masukkan Byun Gyeongbaek yang tak sadarkan diri ke dalam karung dan ngangkatnya ke punggungnya.
“Bukankah kepalanya akan dipenggal?” tanya Genin.
Lea nggigil.
“Tidak sekarang,” jawab Haban, yang mbuat Lea lega.
“...Aku khawatir,” gumam Genin. “Perkelahian antara sepasang kekasih ibarat motong air dengan pisau...”
Leah ingin ndengar lebih banyak, tetapi Ishakan tiba-tiba nyela reka dengan perintah tajam dalam bahasa Kurkan yang tidak dingertinya. Seketika, orang-orang Kurkan nghilang, ncair dalam kegelapan.
"Kita akan ngunjungi Count." Ishakan mulai bergerak, nggendong Leah di tangannya sambil njelaskan apa yang akan reka lakukan. Di bawah sinar bulan, Leah segera tenggelam dalam pikirannya.
Dia punya banyak pertanyaan. Dia ingin tahu perintah apa yang diberikannya kepada orang-orang Kurkan, ngapa reka ngikuti Byun Gyeongbaek, dan dia ingin nceritakan tentang wanita Toma yang ditemuinya. Daftar hal yang ingin dia bicarakan terus bertambah.
Namun, dia tidak berani bicara. Suasananya tidak bersahabat. skipun penasaran, dia tetap berbaring diam dalam pelukannya hingga reka tiba di kediaman sang bangsawan.
Rumah besar Count Weddleston miliki taman besar di bagian depan dan belakang, tetapi semua tanamannya mati. Di bawah bunga-bunga yang mati, tanah berwarna cokelat dan berdebu terlihat. Di balik taman yang tandus itu terdapat rumah besar yang gah, tetapi suasananya anehnya hening skipun semua lampu nyala.
Leah natap rumah besar itu dengan napas terengah-engah. Rumah besar itu seperti istana.
"Sering ada Tomari... di rumah bangsawan," gumam Ishakan, sambil natap tajam ke dalam kegelapan. Tomari yang ditolak masuk ke istana tetap disambut di rumah bangsawan.
Seolah sedang riksa sesuatu, Ishakan nunggu, lalu mulai bergerak lagi.
reka tidak lihat siapa pun saat masuki rumah besar itu. Bagian dalam sama sunyinya dengan bagian luar. Siapa pun mungkin bertanya-tanya apakah ada orang hidup di seluruh tempat itu.
Tanpa bersuara, Ishakan nurunkan Leah, dan reka berjalan bersama lalui koridor panjang yang kosong, dengan lantai marr dan jendela lebar. reka seharusnya mbiarkan cahaya masuk, tetapi awan nutupi bulan, dan rumah itu dipenuhi kesuraman.
Suara langkah kaki reka yang lembut bergema di sepanjang koridor. Leah tidak dapat lihat apa pun kecuali punggung lebar pria di depannya, dan hatinya terasa berat seolah-olah ada batu yang tergantung di sana. Ia ragu-ragu beberapa saat sebelum dapat berbicara.
“Ishakan!”
Tanpa suara, ia noleh untuk natapnya, dan ia tidak dapat mikirkan hal lain untuk dikatakan. Ia natapnya, dan entah bagaimana ia tahu bahwa ia sedang natap bibirnya. Matanya terpaku pada bibirnya saat ia ncari sesuatu untuk dikatakan, dan ia mperhatikan lidah kecilnya bergerak, dan berhenti.
Wajah Leah terasa panas. Tanpa sadar, dia nutup mulutnya dan nundukkan matanya, tidak dapat berbicara.
"......!"
Lengannya yang kuat lingkari pinggangnya dan sebuah tangan besar ncengkeram bagian belakang lehernya. Tubuhnya yang kokoh luk tubuhnya.
Tiba-tiba, bibir reka saling nempel, dan Leah hanya sempat terkesiap kaget. Mata emasnya berbinar. Sambil noleh ke satu sisi, lidahnya masuk ke dalam mulut Leah.
Dia tidak bisa jamkan mata. Lidahnya yang lembut njilati bibirnya dengan suara lembut dan basah, dan dia rasakan geli di bawahnya. Secara otomatis, dia rapatkan kedua pahanya.
"Hmm..." Erangan itu keluar dari dalam tenggorokannya, dan suaranya begitu penuh kenikmatan hingga mbuatnya malu, tetapi dia tidak bisa nghentikannya. Tubuhnya bergetar. Ujung jarinya yang getar nelusuri punggungnya, dan dengan malu-malu, Leah luknya.
Ishakan ngerang serak saat disentuhnya. Suara itu mbuatnya bergairah, berderak di sekujur tubuhnya seperti kayu bakar yang dibakar di tengah api, dan dia nancapkan kukunya di punggung Ishakan dan nciumnya dengan penuh gairah. Dia lupakan segalanya.
Tiba-tiba, semua yang ada di sekitarnya njadi terang. Butuh beberapa saat untuk nyadari bahwa itu bukan Ishakan. Bulan yang tersembunyi di balik awan gelap telah muncul, dan bersinar lalui jendela.
Reviews
All reviews (0)