Segera Raja Estia akan nikah.
Anehnya, ia akan nikah dengan saudara tirinya, Putri Leah. Namun, para bangsawan Estia nerima pernikahan yang tidak biasa ini tanpa keberatan. Bahkan para utusan dari negara lain pun mulai nerimanya seolah-olah itu hal yang wajar, skipun reka jelas rasa tidak nyaman saat pertama kali tiba.
Tampaknya semakin lama reka tinggal di istana, semakin reka nerima pernikahan sedarah itu. reka tidak berbeda dengan para bangsawan Estian.
"ngapa tidak ada seorang pun yang ngemukakan pendapat lain?"
Suara yang jelas bergema di seluruh Dewan Kabinet. Leah lihat barisan bangsawan yang duduk di sana seperti orang-orangan sawah. Seorang pria tua dengan janggut putih lebat berbicara.
"Itu karena nurutku sang Putri benar."
"Saya akan nuruti kemauan keluarga kerajaan," kata pria lainnya.
"Tolong jangan salah paham tentang kesetiaan kami," kata yang ketiga.
Leah pasti nertawakan kesetiaannya kepada keluarga kerajaan ini.
"Jika aku bilang aku berencana nggal kepala kalian semua," Leah mulai bicara, sambil natap reka dengan dingin, "apakah kalian juga akan setuju dengan itu?"
reka berkedip seolah tidak ngerti pertanyaan itu. Bahkan nteri Laurent tampak bingung saat bertemu matanya. Kursi di sebelahnya tempat Count Valtein selalu duduk kosong.
"Cukup," Leah nyatakan. "Itulah akhir dari pertemuan hari ini."
Masih banyak masalah yang harus dibahas, tetapi pertemuan-pertemuan ini tidak ada gunanya. Tidak ada yang mbahas apa pun. Leah harus ngurusnya sendiri.
Para bangsawan tetap tinggal setelah pertemuan, berkerumun dalam kelompok dan ngobrol seperti biasa. Obrolan tentang topik-topik santai tampak biasa saja. reka bahkan sesekali tertawa terbahak-bahak. Leah adalah satu-satunya yang tidak ikut.
Mudah saja jika dia hanya nuruti saja. Semuanya akan ngalir seperti air, jika dia mbiarkannya terjadi. Namun Leah tidak berencana untuk nyerah. Sambil ngerutkan bibirnya, dia lihat ke arah kerumunan di sekitarnya.
Dia harus mbuat reka tidak nyaman.
Leah nyadari keanehan situasinya sebagian berkat bantuan Ishakan, tetapi bahkan sebelum Ishakan datang, ia sudah terus-nerus rasa ada yang tidak beres. Perasaan itulah yang pertama kali nyadarkannya akan kemungkinan adanya masalah.
Dia telah ncoba mprovokasi reka hari ini, tetapi sejauh ini tidak ada yang berhasil. Dia butuh sesuatu yang lebih ekstrem untuk mbangunkan reka.
Terhanyut dalam pikirannya, dia hendak ninggalkan konferensi ketika seseorang bergerak untuk ncegatnya. Leah ndongak, terkejut.
"Byun Gyeongbaek dari Oberde...?"
"Biarkan cahaya nyinari Estia," kata Byun sopan. "Senang bertemu denganmu, Putri."
Byun Gyeongbaek dari Oberde nguasai perbatasan barat, wilayah yang berbatasan dengan Kurkan. Ia miliki pengaruh politik, jadi penting untuk njaga hubungan baik dengannya, tetapi Leah tidak begitu nyukainya. Ia miliki aura nyeramkan dan terus ncuri pandang ke tubuhnya setiap kali reka berbicara. Leah rgokinya sedang mperhatikannya dengan sangat obsesif, dan ketika ia ngenakan gaun dengan korset berpotongan rendah, seperti hari ini, ia tanpa malu-malu natap belahan dadanya.
Dan ketika dia mbungkuk untuk ncium punggung tangannya, bibirnya bertahan lebih lama dari yang seharusnya.
Kalau saja dia bukan seorang putri, dia yakin dia akan nggunakan pengaruhnya untuk berbuat lebih buruk.
Namun hari ini, dia tidak lakukan semua hal itu. Sebaliknya, pria yang biasanya sombong itu hanya tampak ketakutan, nyeka keringat yang terlihat dari dahinya dengan sapu tangan. Leah natapnya dengan bingung saat dia ragu-ragu.
"Mungkin sang Putri..." Dia mulai dengan canggung. "Orang-orang barbar..."
Matanya terbelalak saat ndengar nama Kurkan, dan dia nunggu Byun Gyeongbaek nyelesaikan pikirannya. Namun, Byun Gyeongbaek nutup mulutnya.
"Itu bukan apa-apa. Hanya salah bicara," katanya. "Lupakan saja."
skipun Leah ncoba nghentikannya, dia dengan cepat larikan diri tanpa sedikit pun usaha untuk nunjukkan harga dirinya. Terkejut, Leah segera ninggalkan ruang konferensi.
Kenapa dia tiba-tiba bersikap seperti itu? Pasti ada maksudnya. Lain kali, dia akan nangkapnya dan nanyainya.
"Putri." Para dayangnya mbungkuk dan ngikuti di belakangnya saat dia kembali ke istananya.
Semua ksatria dan wanita yang berada di kebun persik telah kembali dengan selamat. Dia ndengar bahwa reka telah diberi ramuan tidur, dan ketika reka bangun, reka telah dibawa pergi dan dijebak di suatu tempat yang jauh. reka akhirnya dibebaskan dan diizinkan untuk kembali.
Dan tak seorang pun mbicarakannya. Seolah-olah itu dilarang.
Lady Mirael yang repotkan itu nghilang tanpa jejak. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia pernah ngunjungi rumah wah barunya. Dan Blain sama sekali tidak tertarik dengan kepergiannya. Tidak seorang pun di istana yang mbicarakannya.
Seolah-olah dia tidak pernah ada.
Reviews
All reviews (0)