Tidur siangnya singkat, tetapi nyenyak, dan terasa nyegarkan seolah-olah dia telah tidur selama beberapa jam. Ketika Leah terbangun, dia berada di luar istana. Setelah beberapa saat ngerjap-ngerjapkan mata, bingung, dia nyadari bahwa dia masih dalam pelukan Ishakan, berjalan lalui jalan-jalan kota di malam hari. Dia terbungkus jubah besar.
Matanya terbelalak. Ini adalah pertama kalinya dia ninggalkan istana, dan dia ngamati sekelilingnya dengan penuh perhatian.
Jalanan malam di pusat kota itu diterangi lentera, ramai dan sibuk. Namun anehnya jalan-jalan ini tidak tampak asing, hampir seperti pernah dilihatnya dalam mimpinya. Ia lihat beberapa orang mandang ke arah reka dengan rasa ingin tahu, pasti bertanya-tanya ngapa lelaki besar itu berjalan sambil nggendong seorang perempuan kecil di lengannya. Leah nepuk bahunya pelan untuk mberi tahu bahwa ia sudah bangun, tetapi lelaki itu tidak bermaksud nurunkannya.
"Kita hampir sampai."
reka tiba di sebuah penginapan reyot yang tampak seperti akan runtuh kapan saja. Entah ngapa, penginapan itu juga tampak familier, dan Leah natapnya saat Ishakan ndorong pintu kayu yang berderit.
"Pertama, makanlah sesuatu..." gumamnya. Penginapan itu terang benderang dan sunyi. skipun tidak ada pelanggan, Leah ncium sesuatu yang begitu lezat, ia harus nelan ludahnya. Tiba-tiba, ia rasa lapar seperti belum makan kurma itu. Biasanya aroma makanan mbuatnya mual, tetapi kali ini, aroma itu mbuat nafsu makannya ningkat.
"Apakah kamu lapar?" tanya Ishakan sambil tersenyum lihat binar di matanya.
Ia terlalu lapar untuk ncoba nyelamatkan mukanya. Leah langsung ngangguk, dan Ishakan langkah lewati ja-ja kosong nuju ja terjauh di belakang, narik tudung kepala Leah saat reka duduk.
"Haban," katanya sambil manggil seseorang. Seorang Kurkan ndekat dengan bangga, sambil mbawa nampan di masing-masing tangannya. Leah ngenalinya sebagai Kurkan yang sama yang telah mbuat Countess lissa pingsan. -Hanya diposting di Novel Utopia.
"Makanan Kurkan. Kami masak makanan yang kamu suka di masa lalu, skipun aku tidak yakin apakah sekarang kamu akan nyukainya," katanya sambil letakkan nampan di atas ja dan nata piring. "Mura mintaku untuk mastikan bahwa dia masaknya sendiri. Aku mbuat zaatar manakeesh."
Sebagian besar kata-katanya tidak masuk akal, tetapi niat baiknya sangat jelas.
"Terima kasih," katanya, ngejutkannya dengan nada formalnya.
"Leah, kamu bisa bicara denganku dengan nyaman..."
"Cukup." Ishakan nyela. "Jangan nuntut terlalu banyak darinya."
Haban ngangguk dan berjalan pergi, tampak putus asa, dan Leah mperhatikan kepergiannya, penasaran. Ishakan gang wajahnya dengan kedua tangannya.
"Jangan khawatir tentang apa pun. Makanlah dulu," katanya sambil nyerahkan peralatan makannya. Bahkan peralatan makannya telah disiapkan untuknya dan berukuran pas untuk tangannya. Leah mulai makan dengan gembira. Ia belum pernah lihat makanan seperti ini sebelumnya, tetapi ia tidak rasa jijik. Sungguh ngejutkan bahwa ia bisa makannya dengan mudah.
Saat makan, Ishakan motong makanan njadi potongan-potongan kecil, sehingga Leah tidak punya pilihan selain makan dan nikmatinya. Leah ngakhiri makannya dengan teh hangat. Sudah lama sekali ia tidak bisa makan makanan yang enak, ia rasa seperti hidup kembali setelah rasa kenyang. Teh hangatnya pun sangat lezat, ia ingin ngajak para juru masak kembali ke istana. Jika ia bisa makan seperti ini setiap hari, ia tidak akan minta yang lain.
"Lea."
Tatapannya beralih ke Ishakan, dan dia lirik cangkir tehnya untuk mastikan cangkirnya hampir kosong sebelum dia berbicara.
"Ada seseorang yang ingin aku temui."
Seketika, ia rasa bahwa hal itu ada hubungannya dengan ingatannya yang hilang. Namun, reka telah mperlakukannya dengan sangat ramah, jadi ia setuju untuk bertemu dengan siapa pun yang diinginkannya.
Pintu penginapan berderit terbuka dan seorang wanita dengan selendang di bahunya masuk. Begitu dia lihat Leah, wajahnya berubah seolah-olah dia akan nangis.
"Putri..."
"Siapa kamu?" tanya Leah, bingung lihat penderitaan wanita itu.
Mata wanita itu mbelalak kaget. Namun, kemudian dia ngerutkan bibirnya, tampak nguatkan diri, seolah-olah dia sudah nduga hal itu.
"Saya Baroness Cinael," katanya tegas. "Saya dulu bekerja sebagai dayang untuk Anda, Putri."
Reviews
All reviews (0)