Berbaring di tempat tidur, dia tidak bisa tidur, skipun dia sangat lelah. Setelah natap kosong ke langit-langit untuk waktu yang lama, dia perlahan bangun.
Ia terlalu lapar untuk tidur. mikirkan apa yang telah dimakannya hari itu, Leah nyadari bahwa yang berhasil ia makan hanyalah buah dan air, karena semua hal lain mbuatnya mual. Dan ia bahkan tidak ingin makannya; ia hanya makan agar ia tidak mati.
Berjalan mondar-mandir dengan cemas di sepanjang ruangan, dia hanya bisa berjalan sebentar sebelum akhirnya harus duduk di kursi berlengan. Secara fisik dan ntal, dia rasa tidak enak badan. Dia ingin makan, tetapi tidak bisa, dan dia rasa sangat lemah.
Ia nginginkan kurma. Hanya dengan mikirkannya saja, kenangan itu kembali begitu jelas, nyakitkan, tajam, dan nghantui. Ia nggigit bibirnya saat mbayangkan rasa itu. Ishakan telah berbohong padanya, ia telah berjanji untuk mbawakannya lebih banyak, tetapi kemudian nghilang. Ia bahkan setuju untuk nciumnya karena ia sangat ingin makannya.
Saya lapar...
Celakanya, dia luk bantal di perutnya seolah-olah itu akan muaskan rasa laparnya. Dia lapar, tetapi dia tidak bisa ndapatkan satu hal yang diinginkannya, dan dia begitu lapar hingga dia kehilangan kendali atas emosinya.
Dia sangat lapar, dia rasa mual lagi. Perutnya bergejolak, sangat kosong.
Mungkin udara segar bisa mbantu. Sambil bergerak perlahan, dia ndorong pintu kaca dan langkah keluar ke balkon. Saat dia natap istana di malam hari, sambil letakkan tangannya di pagar, dia rasa ncium aroma segar. Saat dia noleh ke arah itu, dia hampir berteriak.
Matanya bertemu dengan mata seorang pria yang duduk di pohon terdekat, sambil nghisap cerutu. Mata emasnya berbinar nakal.
"Ups, kamu ketahuan," katanya, lalu ngembuskan asap rokoknya sambil tersenyum. "Aku hanya ingin rokok sedikit."
Dia sangat terkejut hingga tidak dapat berbicara. Ishakan ncabut cerutunya dan berdiri, gang karung kecil di satu tangan sambil lompat lincah dari pohon ke balkon. skipun jaraknya cukup jauh, dia ndarat dengan mudah dan berdiri tegak di hadapannya.
"...Lea?"
Tiba-tiba, matanya berkaca-kaca. Ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada fakta bahwa dia sekali lagi berhasil lolos dari periksaan keamanan dan masuk ke istana Putri Estia.
"Kurma..." katanya, dengan mata yang berkaca-kaca. Ishakan ngerjapkan mata padanya, bingung. "Kau bilang akan mberikannya padaku!" teriaknya, berusaha nahan air matanya agar tidak keluar. "Kenapa kau tidak lakukannya?!"
"..."
Ishakan ngulurkan karung itu ke arahnya, tampak bingung. Seluruh karung itu berisi kotak-kotak kecil berisi kurma, dan Leah langsung nyambar satu, lalu masukkan kurma ke dalamnya. mbuka kotak lainnya, dia makan setengahnya, muaskan keinginan terburuk di perutnya, lalu langsung masuk ke kamar tidurnya untuk nyembunyikan sisanya, nyimpan kotak-kotak kecil itu di seluruh ruangan.
Hanya dengan mikirkan untuk milikinya nanti saja sudah mbuatnya rasa lebih baik. Seperti seekor tupai yang nimbun makanan untuk musim dingin. Baru setelah kotak-kotak itu disembunyikan, dia nyadari apa yang sedang dilakukannya, dan dia noleh ke arah Ishakan dengan canggung.
"...Ah."
Wajahnya rah karena malu dan dia nundukkan kepalanya. Ini sudah dua kali dia bersikap seperti orang rakus di depan pria ini. Dia tidak bisa mbayangkan apa yang dipikirkan pria itu tentangnya. Namun, skipun dia nunggu lama, pria itu tidak berbicara. Dan ketika dia perlahan ngangkat matanya, dia tidak lihat ejekan yang dia duga akan muncul di wajahnya.
"Apakah kamu kelaparan hanya agar bisa ngenakan gaun?" tanyanya, nyela pikirannya.
"Tidak, hanya saja...aku tidak punya selera makan akhir-akhir ini..."
Ishakan ngerutkan kening.
"ngapa kamu tidak berselera makan?" tanyanya, suaranya muram.
Dia tidak tahu kenapa. Ketika dia makan apa pun selain kurma, dia rasa mual dan akhirnya muntahkan semuanya. Itu konyol, dan dia bahkan tidak bisa ncoba njelaskannya. Dan skipun dia tidak njawab, Ishakan tidak ndesaknya.
"Berat badanmu turun," gerutunya kesal, dan ndecak lidahnya. "Cuaca di luar bagus, bagaimana kalau kita jalan-jalan sore bersama?"
Sekali lagi, dia berbicara omong kosong, tetapi tidak ada gunanya ncela dia. Jika dia pernah peduli tentang itu, dia tidak akan datang sejak awal. Saat Leah bertanya-tanya bagaimana dia bisa nolak dan mbuatnya pergi, dia dengan lembut gang dagunya.
"Aku akan mberimu banyak kurma," katanya, dan jari-jarinya yang panjang nyentuh bibirnya, dengan lembut nyeka sedikit rasa lengket dari kurma di sudut mulutnya. Lidahnya njilati ujung jarinya. "Dan aku akan mberimu beberapa hal lezat lainnya."
Reviews
All reviews (0)