Font Size
15px

Tubuh lelaki itu begitu hangat. Ia tak dapat nahan dorongan tiba-tiba pria itu ke arahnya dan punggungnya nghantam pintu saat pria itu luk Leah yang enggan. Sebelum ia sempat berpikir untuk protes, sebuah ciuman dalam nyusul, saat salah satu tangan pria itu gang pinggangnya dan tangan lainnya gang tengkuknya.

Api gairah berkobar lalui tubuhnya saat tangan pria itu luncur dari pinggangnya ke dadanya, dan dia rasakan sensasi kenikmatan saat pria itu ngusap putingnya.

"Oh, hentikan...!"

Terlambat, dia ndorongnya njauh dan natapnya, matanya bergetar. Mata emasnya yang hangat hampir nghipnotis, dan yang bisa dia dengar hanyalah suara napas reka, terengah-engah bersamaan. Pikirannya kacau. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupnya dia ngalami hasrat seksual, dan dia segera ngalihkan pandangannya.

"...berhenti," bisiknya. "Lepaskan aku."

Tetapi lengannya yang kuat hanya luknya lebih erat, dan dia ndorongnya lagi, maksakan kata-kata itu keluar dari giginya.

"Silakan..."

Rasa bersalah nyelimuti dirinya. Ia tidak percaya telah ngkhianati orang yang dicintainya, orang yang telah lama berada di sisinya, dan semua itu hanya demi sebuah permintaan sederhana. Ishakan dapat mbaca rasa bersalah di wajahnya. Matanya nyipit.

"Katakan padaku apa yang baik tentang dia, dan aku akan mbebaskanmu." Dia jelas ngacu pada Blain. "Dia tampaknya tidak peduli padamu."

"Itu karena aku nyukainya," kata Leah tegas, berharap dia tidak ngorek lebih jauh.

"ngapa?"

Leah ragu-ragu. Tidak ada jawaban langsung yang datang padanya. Ia ncintai Blain secara otomatis, seperti halnya matahari terbit dan bulan terbenam. Ia rasakan keengganan aneh terhadap sekadar mikirkan untuk mpertanyakan kebenaran mutlak ini.

"Dia sangat manis," jawabnya hati-hati, setelah ragu-ragu cukup lama.

skipun sekarang dia sudah berubah, dulu Blain mang bersikap manis padanya. Ishakan ncibir.

"Aku yakin orang itu maksamu."

"Tidak! Aku sudah nyatakan perasaanku terlebih dahulu!" Leah mbalas dengan marah, tetapi kemudian berhenti karena tatapan mata Ishakan tiba-tiba berubah tajam.

"...Kamu?" tanyanya muram. "Bagaimana?"

Dia tidak ngerti ngapa dia berhutang jawaban padanya, tetapi entah bagaimana dia ndapati dirinya ngungkapkan kisah yang sangat pribadi itu.

"Di taman bunga peony..." katanya. "Aku ngungkapkan perasaanku–"

"Bunga peony?"

Interupsi yang keras itu mbuatnya takut. Pria itu tampak seperti akan mbunuh seseorang saat itu juga, dan secara naluriah ia mundur.

"Ah. Taman bunga peony..." lanjutnya. Leah begitu takut hingga tak dapat berbicara. "Kau pasti sedang gang bunga saat kau ngaku." Mata emasnya berbinar. "Kau getar dan wajahmu rah, namun kau minta untuk njadi seorang istri..."

Sambil nggedor pintu, dia berteriak dalam bahasa Kurkan, kata-kata yang tidak dapat dipahami diucapkan dengan kemarahan yang nyata. Wajahnya berubah saat Leah ndengarkan, tertegun, dan tinjunya yang ditekan ke pintu bergetar.

Tiba-tiba, dia nariknya ke dadanya, dan dia berdiri lumpuh saat dia luknya erat. Dia nyebut namanya.

"Lea..."

Lelaki sombong itu getar seakan-akan akan pingsan, dan tiba-tiba matanya berkaca-kaca. Ia rasa ingin nangis, skipun sebenarnya tidak ada alasan untuk nangis, dan ia berhasil ngedipkan matanya untuk nahannya.

Perlahan-lahan, Ishakan narik napas dalam-dalam sambil luknya, dan keganasannya yang seperti binatang pun reda.

"Dulu kau ngira tempat ini neraka," bisiknya sambil natap Leah. "Sekarang kau bahkan tidak tahu."

"..."

Itu adalah hal yang sangat kasar untuk dikatakan. Dia seharusnya negurnya. Namun dia tidak dapat berbicara. Seolah-olah bibirnya telah direkatkan. Tangannya yang besar nutupi pipinya, pipi yang sama yang ditampar Blain tempo hari. Jari-jarinya yang panjang mbelainya dengan lembut.

"Apa yang harus kulakukan, Leah?" tanyanya lembut. "Haruskah kubunuh reka, dan kita pergi ke padang pasir?"

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 200: Pusaran Emosional 3 on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Love You Till the End cover
Similar genre

Love You Till the End

Xi Yan ·Romance

ShenChenstartslivingalifeofunrestrainedindulgencesincemarryingShiYu.Themostbeautifullovers’prattleshehaseverheardis“Iwillpunishthosewhomyouhaveoffe...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.