Bangga dan besar, perahu dan kapal Kurkan nyentuh tanah Estia. Dari kejauhan, dia tahu bahwa reka datang mbawa hadiah.
Saat Leah mperhatikan berlian putih berkilau yang tergantung longgar di kapal kayu, pandangannya njadi kabur. Dia tiba-tiba teringat betapa sedikitnya makanan yang dia makan hari itu—hanya segenggam buah beri liar dan secangkir teh.
Yang mbuatnya sangat kesal, dia diperintahkan untuk ngontrol pola makannya lebih dari biasanya untuk ndapatkan pinggang yang lebih ramping. Para pelayannya rasa kasihan karena mberinya makanan yang sedikit, tapi reka harus matuhi perintah dari atas.
Ratu Cerdina sendiri yang ngawasi makanan sang putri. Jika dia ngetahui bahwa Leah ngonsumsi remah-remah lebih banyak dari yang dia tetapkan untuknya, dia dan pelayan dapur akan nderita akibat yang sangat ngerikan.
Bagi Cerdina, Leah hanyalah alat, bukan manusia. Untuk nyenangkan banyak bangsawan dan orang Kurkan yang berkunjung, Leah dituntut untuk njadi sangat cantik, terutama saat ini.
Ketidaknyamanannya nyaris tak tertahankan, Leah ringis sambil nopang berat badannya dengan berpegangan pada pegangan tangga. Dia rasa pusing karena rasa sakit yang disebabkan oleh korset ketat yang nekan perutnya yang kosong. Kainnya nempel di kulitnya, dia tahu kain itu akan ninggalkan bekas saat jamuan makan berakhir.
Alisnya berkerut saat pandangannya berayun. Takut rusak wajahnya yang rah sempurna, dia maksa dirinya untuk luruskan ekspresinya.
Di sudut, Countess lissa mperhatikan sang putri dengan mata nyedihkan?Penderitaan yang dialami anak ini...
Di antara bawahan istana, dia paling lama bersama Leah. lihat tubuh kurus Leah bergetar, dia segera nyadari apa yang terjadi. ndekatinya dengan tergesa-gesa, Countess lissa dengan cepat nopang berat badan sang putri yang mulai rosot.
Leah hampir tidak bisa berdiri. Namun, karena tidak nyadari perjuangan majikannya, para pelayan lainnya terus ngagumi kecantikan Leah.
"Putri!" Seorang pelayan kik, "Lihat betapa cantiknya dirimu."
"Hanya anda yang bisa ngenakan gaun ini dengan sangat indah."
"Bagaimana jika orang Kurkan jatuh cinta padamu?"
Baroness Sinael adalah orang yang berbicara terakhir, dan setelah ndengar kontarnya, Countess lissa dengan ringan negurnya, mberinya tatapan paling berbisa.
Setelah beberapa penyesuaian di sana-sini, sang putri akhirnya siap. Dengan wajah datar, dia berangkat ke istana kerajaan dengan beberapa pelayan di belakangnya.
****
Aula utama adalah bagian paling indah dari istana kerajaan Estia. Langit-langitnya dicat dengan lukisan dinding yang berkaitan dengan kekayaan sejarah Estia, tiang-tiang marrnya diukir dengan berbagai jenis ukiran detail, dan singgasananya terbuat dari emas, gading, dan permata berharga.
Beberapa tamu terhormat telah berkumpul di sana, namun begitu dia masuk, Leah njadi pusat perhatian reka. Dia berjalan lebih cepat, berjalan ke sudut yang tersembunyi, berusaha untuk tidak bertemu dengan bangsawan lain yang datang sebelum dia.
Blain tersenyum miring saat dia lihat Leah berjalan ngitari ruangan. Dia begitu sibuk mpersiapkan rencana penanggulangan terhadap suku Kurkan sehingga reka tidak bisa lihatnya setelah kembali dari berburu. Dia mbuat catatan ntal untuk "berbicara" dengannya setelah pertemuan selesai.
rasakan tatapan pria itu tertuju padanya, Leah ngalihkan pandangannya dan malah nghampiri ayahnya dan nyapanya. Kemudian, dia nyapa Cerdina, dan setelah ngakui kehadiran Blain dengan anggukan, ngambil tempat duduk yang telah ditentukan untuknya.
Tak lama kemudian, suara terompet yang dahsyat terdengar; aula yang ramai njadi sunyi.
Semua orang nahan napas—mata reka terpaku pada pintu aula yang gah. Tidak ada yang berani berkedip, karena ini adalah sejarah yang terkuak di depan mata reka.
Pintu raksasa terbuka, mbiarkan sinar matahari masuk ke aula. Perlahan-lahan, sosok orang-orang Kurkan itu njadi jelas—kulit reka yang kecokelatan dan mata reka yang cerah mikat semua orang di aula.
Orang-orang berseru takjub lihat kecantikan orang Kurkan. Berbeda dengan pakaian formal Estia yang dirancang agar pas di badan, pakaian Kurkan dijahit dengan bahan alami dalam jumlah banyak yang digantung longgar di badan.
Namun terlepas dari penampilan setiap Kurkan yang cantik, semua orang dapat mbedakan siapa pemimpin reka hanya dari penampilannya.
Kulit kecokelatan pria itu bersinar di bawah sinar matahari, tubuhnya miliki otot yang kuat dan sebesar binatang buas. Dia berjalan masuk, dengan santai letakkan satu kaki di depan kaki lainnya, berjalan tanpa peduli pada dunia.
Mata emasnya dengan hati-hati ngamati aula, berhenti tepat pada sang putri, yang natapnya dengan ekspresi kaget.
Ini tidak mungkin terjadi...
Nafas Leah tersengal-sengal, dan jantungnya berdebar kencang... Terlebih lagi, dia bisa lihat sedikit senyuman di bibirnya saat tatapannya yang dalam dan tajam njelajahi seluruh tubuhnya.
Pria itu langkah maju, matanya tetap tertuju pada Leah. Dia berhenti di depan keluarga kerajaan, dan suara rendah yang familiar bergema di seluruh aula.
"Semoga cahaya mberkati Estia," kata raja sambil tersenyum penuh arti, "Saya adalah raja Kurkan, Ishakan."
Leah ngepalkan rok gaunnya yang ncolok, ingin robeknya.
Itu dia!
Reviews
All reviews (0)