Ishakan tertawa pelan.
"Kamu harus kembali. Suamimu pasti sudah nunggumu."
Dia benar, sudah waktunya bagi Genin untuk pulang. Genin mbungkuk lalu mulai ngumpulkan kepala-kepala yang terpenggal dan masukkannya ke dalam karung. Dia pergi dengan tas berlumuran darah di punggungnya.
skipun fajar masih beberapa jam lagi, saat ia tiba di rumahnya, langit masih terang. Pria yang sedari tadi ngawasi dari jendela segera keluar ke taman, sambil ndorong kursi rodanya dengan cepat. Matanya terbelalak saat ncium bau darah yang nuhi udara di sekitarnya.
"Maaf, aku terlambat." Genin ngosongkan karung di depan kursinya, kepala-kepala itu terbentur tanah. "Aku telah mbunuh reka. Akhirnya."
Wajahnya kaku saat dia nunduk. Dia ngenali wajah-wajah itu dari mimpinya. Suaranya bergetar saat dia berbisik.
"...Sudah kubilang tidak apa-apa."
Genin tidak dapat berbicara, hanya nggelengkan kepalanya dengan penuh penyesalan. Suaminya ncengkeram sandaran lengan kursinya. Ia tahu Genin nderita karena kenangan itu. Ia telah ngatakan kepadanya seratus kali bahwa tidak apa-apa, untuk lupakannya. Tidak ada yang dapat dilakukan untuk itu...
Namun, dia telah mbalas dendam. Dia ngerti bagaimana perasaannya saat mbunuhnya, dan ngapa dia pikir dia harus mbawa kepala reka. Jadi dia mberi tahu Genin apa yang paling ingin didengarnya.
"Terima kasih." Kata-kata itu mbuatnya berkedip, dan dia ngulurkan tangannya padanya. "Kemarilah. Biarkan aku lukmu."
Karena tidak kuat berdiri, Genin berlutut dan lingkarkan lengannya di pinggangnya, nyandarkan kepalanya di dada Genin. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia rasa damai sepenuhnya.
***
Hingga ia tertidur, Leah telah bersama Ishakan. Akan terlalu berlebihan jika ia telah nembusnya, jadi reka hanya bermaksud untuk nyentuhnya, tetapi sungguh mustahil baginya untuk nahan diri sepenuhnya.
Ishakan masukkan jarinya ke dalam tubuh wanita itu sambil njilati setiap bagian tubuhnya. Wanita itu ncapai klimaks berkali-kali, skipun dia tidak tahu berapa kali, dan tertidur begitu Ishakan mbuatnya nelan spermanya lagi.
"..."
Ketika dia bangun, dia sendirian. Ishakan pasti sudah kembali ke istana lebih dulu karena dia punya pekerjaan yang harus diselesaikan. Secara fisik, dia mang rasa lebih baik dari biasanya. mang malukan untuk ngakuinya, tetapi ngonsumsi spermanya tampaknya berhasil.
Berbaring di tempat tidur di dalam tenda, dia bertanya-tanya tentang masa lalunya. ngenai hal ini, dia dengan jelas nolaknya, skipun Ishakan jarang ngatakan tidak kepada Leah. Jika dia harus nebak masa lalunya, itu mungkin terkait dengan perdagangan budak... Leah ngerutkan kening. Dia tidak akan nyelesaikan apa pun dengan nebak. Dia berhenti mikirkannya.
Sambil duduk, dia narik tali di samping tempat tidurnya.
"Leah, aku masuk."
Suara yang belum pernah didengarnya sebelumnya datang dari luar tenda. Pintu terpal terbuka dengan kilatan sinar matahari saat beberapa orang Kurkan masuk, dan wanita di depan mbungkuk.
"Mulai sekarang, kami akan layani Anda. Saya Mura, dayang kepala Anda." Para dayang barunya telah dipilih setelah kompetisi yang ketat. Mata Leah terbelalak saat nerima salam reka.
Mura ngikat rambut panjangnya ke belakang, mperlihatkan tato kecil di sebelah mata kirinya yang tampak familier. Ukuran dan bentuknya sama dengan tato di sebelah mata kanan Haban.
Ketika dia nyadari apa yang sedang dilihat Leah, Mura nunjuk tato itu dan tersenyum.
"Haban adalah suamiku. Aku ingin mperjelas sekarang bahwa aku nangkan posisi dayang kepalamu atas usahaku sendiri." Haban tidak ikut campur sedikit pun. Mura telah nangkannya dengan pantas.
Sambil berkata demikian, dia dengan rapi letakkan sarapan yang ngenyangkan di hadapan Leah di tempat tidur. Seperti biasa, nampannya penuh. Saat Leah makan, Mura mulai njelaskan.
"Silakan dengarkan sambil makan," katanya sambil tersenyum. "Tanggal pernikahanmu sudah ditetapkan. Dua minggu lagi."
Reviews
All reviews (0)