Leah nyadari bahwa Ishakan sedang berjalan dengan tenang ke arahnya, entah bagaimana terlihat lebih ngesankan dari biasanya. Dia ngenakan pakaian berburu, dan aneh lihatnya mbawa tempat anak panah dan pedang di pinggangnya, tapi itu sangat cocok untuknya.
Di belakangnya datanglah orang-orang Kurkan yang dia pilih untuk nemaninya berburu. Semuanya ada lima, termasuk Haban dan Genin, tapi ada satu yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Kurkan laki-laki dengan rambut panjang diikat ke belakang, disisir pinggang, dan tato di kulitnya manjang dari ujung mata hingga pipinya. Matanya panjang dan tipis, dan bibirnya sedikit lengkung mbentuk senyuman.
Sebelum Ishakan ncapai Leah, sosok lain muncul nyambutnya. Blain telah riksa kudanya, tetapi bergerak untuk ncegat, dan kedua pria itu saling natap dalam diam sejenak. Blain adalah orang pertama yang berbicara.
"Terima kasih telah bersedia berburu bersama kami hari ini, Tuan," ucapnya.
Cerdina keluar dari tenda, ngenakan gaun sederhana dan nyaman yang sangat mirip dengan milik Leah. Dia lihat sekeliling dengan mata ngantuk, tapi nenangkan dirinya dengan anggun saat lihat Ishakan dan ndekati raja.
"Lama tidak bertemu," katanya. "Bagaimana kabarmu?"
Orang-orang Kurkan itu natapnya seolah-olah dia adalah makhluk yang sangat narik, tatapan ngintimidasi yang tidak mbuat Cerdina ragu sedikit pun. Dia hanya tersenyum ramah, dan Ishakan mbalas senyumannya.
"Berkat keramahtamahan Estia, pengalaman nginap saya sangat nyaman."
skipun makan siang yang dia hadiri telah dirusak, tidak ada yang nyebutkan hal itu. Semua orang tersenyum dan berbicara seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dalam masyarakat, musuh masa lalu bisa dengan mudah njadi teman saat ini. Namun betapapun seringnya situasi seperti itu terjadi, selalu terasa aneh nyaksikannya.
Leah adalah orang terakhir yang ndekat. Dia berencana untuk nyambutnya dengan sederhana dan segera berbalik, tapi dia ragu Ishakan akan ngizinkannya. Saat dia ndekat, orang-orang Kurkan ngalihkan pandangan reka padanya, dan Ishakan natapnya dengan tenang sambil tersenyum.
"Putri." Tidak peduli seperti biasanya dengan orang lain di sekitarnya, dia berbicara dengan lembut. "Apakah kamu ingin binatang tertentu? Aku akan nangkapnya untukmu."
Dia hendak njawab, tetapi orang lain berbicara lebih dulu.
"Adikku akan berburu sendiri." Blain ncengkeram pergelangan tangannya erat-erat dan nariknya ke belakang, nempatkannya di belakangnya. "Anda tidak perlu lakukan apa pun untuknya, Tuan."
Perhatian Ishakan tidak tertuju pada Blain. Matanya terfokus pada pergelangan tangan Leah, natap tajam pada cengkeraman keras yang nahannya. Perlahan, berbahaya, matanya beralih ke wajah Blain.
"Putra Mahkota, apa yang kamu takuti?" Bibirnya lengkung mbentuk senyuman kosong, dan matanya berkilauan, dingin dan tidak nyenangkan. Suaranya tenang, namun nusuk, saat dia nantang sang pangeran. "Apakah nurutmu aku akan nangkap dan nikahi sang putri sekarang?"
Siapa pun yang ndengarkan dapat ngetahui bahwa dia ncoba mprovokasi Pangeran. Blain narik napas dalam-dalam, berusaha nahan kekesalannya.
"ngapa saya harus takut?" Dia mbalas. Dia bisa tetap tersenyum bahkan ketika dia sedang marah. "Anda datang ke Estia secara pribadi, dengan maksud untuk nandatangani perjanjian damai. Saya berasumsi Anda tidak akan lakukan apa pun untuk mulai perang." Suaranya sedingin angin musim dingin. "Janganlah kamu ngingini apa yang dimiliki orang lain."
Ishakan mpertimbangkan kata-katanya, lalu tertawa singkat. Leah lirik Cerdina. Ratu tampak bahagia. Biasanya, dia akan terpancing oleh sikap tidak peduli atau tidak hormat kepada putranya yang berharga, jadi hal itu nurut Leah aneh. rasa gelisah, dia terus ngawasi Ratu.
Ishakan juga lirik Cerdina sambil tersenyum.
"Sungguh, sekarang...kurasa ini akan njadi perburuan yang nyenangkan," katanya. Mata emasnya berkilau, licik dan penuh teka-teki.
"Saya tidak sabar untuk mulainya," jawab Blain, dan Ishakan berbalik. Blain mperhatikan punggung Ishakan sebelum dia berbalik juga, nyeret Leah kembali ke kemahnya. Dia lepaskannya di sana, lanjutkan persiapan berburu, nguji tali busurnya dan riksa pelana kudanya. Dia tidak mandangnya sampai dia selesai.
"Leah, saputangannya," perintahnya.
Diam-diam, dia nawarinya saputangan yang dibawanya. Itu bukanlah barang penting, hanya sesuatu yang dia temukan secara kebetulan di sekitar istana, dan skipun Blain pasti ngetahui hal ini, dia nerimanya tanpa protes. Dia tidak peduli dari mana asalnya, yang penting dia mberikannya padanya.
"Apakah kamu ingin tanduk rusa?" dia bertanya sambil ngikatkan saputangan di pergelangan tangannya. "Atau ekor rubah?"
Dia tahu kakaknya akan terus ngganggunya sampai dia milih sesuatu, jadi dia njawab secara otomatis, tanpa semangat.
"Saya ingin bulu rubah," katanya.
Namun hewan pertama yang terlintas di benak saya bukanlah rubah, lainkan serigala. Binatang yang ngingatkannya pada Ishakan. Segera, dia mbuang jauh-jauh pikiran itu.
Reviews
All reviews (0)