Setelah senior Vyn tertusuk oleh pedangku di dada kirinya dan terhempas hingga nghantam dinding pohon yang ada di belakangnya, Naga besi berwarna hitam yang makanku pun secara perlahan mulai nghilang. Tidak hanya Naga besi hitam yang makanku saja, kedua Naga besi hitam yang sebelumnya sedang bertarung dengan keenam Naga ciptaanku pun juga ikut nghilang.
"Akhirnya selesai juga," ucapku.
Kemudian, aku lihat ke arah keenam Naga ciptaanku yang masih ada di tempatku berada saat ini.
"Terima kasih karena telah mbantuku," ucapku kepada reka.
reka sepertinya tidak ngerti tentang ucapanku. ski begitu, aku tetap ngucapkan berterima kasih kepada reka. Setelah itu, aku mbatalkan sihirku itu dan mbuat reka berenam langsung nghilang secara perlahan. Setelah mbatalkan sihir itu, aku lalu lihat dan mperhatikan seluruh tubuhku untuk riksa apakah ada luka di tubuhku. Selain tangan kiriku yang terluka akibat nggenggam pedang milik komandan Dayne sebelumnya, tidak ada luka lagi pada seluruh tubuhku. Setelah itu aku pun nyembuhkan luka pada tangan kiriku dengan sihir penyembuhanku.
~Full Healing~
Luka pada tangan kiriku pun langsung nghilang setelah aku sembuhkan. Setelah itu, aku noleh ke arah senior Vyn yang sedang berdiri bersandar di dinding setelah aku hempaskan. Kemudian, aku ngarahkan tangan kananku ke arah senior Vyn. Pedang yang nusuk dada kiri senior Vyn tiba-tiba tercabut dari dada kirinya itu dengan sendirinya. Pedang itu kemudian ngarah dan lesat kembali kepadaku. Aku pun langsung nangkap pedang milikku itu dengan tangan kananku ketika pedang itu sudah berada dekat denganku. Setelah itu, aku naruh kembali pedang itu di pinggangku.
Setelah naruh kembali pedangku, aku lihat kembali ke arah senior Vyn. Senior Vyn yang sebelumnya berdiri bersandar, kini telah jatuh terduduk sambil bersandar di dinding pohon tempat dia terhempas. Sebelumnya dia bisa berdiri skipun telah tewas karena pedang yang nusuk dada kirinya juga nusuk dan nancap di dinding pohon yang berada di belakang. Setelah pedang itu tercabut, senior Vyn pun langsung jatuh terduduk. Darah terlihat ngalir keluar dalam jumlah yang cukup banyak dari luka tusukan di dada kirinya itu.
Setelah lihat ke arah senior Vyn, aku kemudian lihat ke arah komandan Dayne. Komandan Dayne terlihat sedang terbaring dengan darah yang juga ngalir keluar dalam jumlah yang cukup banyak dari luka tusukan di dada kirinya.
"Maafkan aku karena harus lakukan ini kepada kalian berdua. Sekarang kalian berdua sudah bebas dan dapat pergi dengan tenang," ucapku.
Setelah itu, aku lihat ke arah salah satu jalan penghubung tempat nona Violetta bertarung dengan Duchess Arnett.
"Sepertinya nona Violetta belum selesai bertarung dengan nona Duchess Arnett. Sebelum aku pergi ngejar Charles dan Chloe, lebih baik aku periksa kondisi nona Violetta terlebih dahulu. Nona Violetta sebelumnya mang bilang kepadaku agar tidak perlu mbantunya dalam lawan nona Duchess Arnett. Tetapi dia tidak bilang untuk tidak perlu ndatanginya. Aku hanya akan pergi untuk ndatanginya dan apabila dia mang belum selesai bertarung dengan nona Duchess Arnett, aku tidak akan mbantunya seperti yang dia katakan sebelumnya," pikirku.
Kemudian, aku langsung bergegas pergi nuju jalan penghubung tempat nona Violetta berada. Sesampainya disana, aku sedikit terkejut karena aku lihat ada banyak bunga berwarna putih seperti bunga Lily yang nuhi permukaan di tempat itu. Lalu cukup jauh di depanku, aku lihat nona Violetta yang sedang berdiri sambil lihat ke arah Duchess Arnett yang sedang terbaring di hadapannya. Aku pun langsung bergegas untuk nghampirinya dan manggilnya ketika jarak antara aku dengannya sudah dekat.
"Nona Violetta," ucapku.
Nona Violetta yang sedang lihat Duchess Arnett pun langsung noleh ke arahku.
"Rid ?," ucap nona Violetta.
Saat aku sudah nghampiri nona Violetta, aku bisa lihat dengan jelas kondisi tubuhnya saat ini. Kondisi tubuhnya saat ini sedang dipenuhi oleh banyak luka. Apalagi ada luka tusukan pada bagian tengah dadanya dan luka tusukan itu nembus hingga ke belakang.
"Luka pada tubuh anda banyak sekali, nona Violetta," ucapku yang sedikit terkejut.
"Iya, luka ini kudapatkan saat bertarung dengan beliau," ucap nona Violetta sambil lihat kembali ke arah Duchess Arnett yang sedang terbaring.
"Aku akan segera nyembuhkan anda," ucapku.
Aku lalu ngarahkan tangan kananku ke arah nona Violetta.
~Full Healing~
Tubuh nona Violetta pun langsung sembuh setelah aku pulihkan.
"Seperti biasa, sihir penyembuhanmu benar-benar hebat. Terima kasih, Rid," ucap nona Violetta.
"Sama-sama, nona," ucapku.
"Hmmm lihatmu datang kesini, apa kamu sudah ngalahkan paman Dayne dan Vyn ?," tanya nona Violetta.
"Iya, aku sudah ngalahkan reka berdua, nona," ucapku.
"Kamu benar-benar hebat bisa ngalahkan reka berdua. Jika ditambah dengan Raja Albert, komandan Marshall dan Florian yang kamu lawan sebelumnya seperti yang kamu bilang, itu berarti kamu sudah ngalahkan 5 orang yang sudah berubah njadi iblis. Setelah ngalahkan 5 orang itu, kamu bahkan tidak terlihat lelah sama sekali," ucap nona Violetta.
"Yah, anggap saja kalau aku miliki stamina dan Mana yang lebih besar daripada kebanyakan orang, nona," ucapku.
"Hmmmm, baiklah," ucap nona Violetta.
Setelah ngatakan itu, nona Violetta pun terdiam dan kembali lihat ke arah Duchess Arnett yang terbaring di hadapannya. lihat nona Violetta yang terdiam, aku mutuskan untuk nanyakan sesuatu kepada nona Violetta.
"Apa anda baik-baik saja, nona ?," tanyaku.
"Hmmm apa maksudmu ? Tentu saja aku baik-baik saja, kan sebelumnya kamu telah nyembuhkanku," ucap nona Violetta.
"Bukan itu maksudku, nona. Maksud saya adalah apa anda baik-baik saja setelah ngalahkan nona Duchess Arnett yang rupakan ibu anda ? lihat Duchess Arnett yang sedang terbaring di hadapan anda, itu nandakan kalau anda telah ngalahkan beliau kan ?," tanyaku.
"Iya, aku sudah ngalahkan beliau. Kamu tidak perlu khawatir, Rid. Aku baik-baik saja skipun aku telah mbunuh ibundaku sendiri," ucap nona Violetta sambil lihat ke arah Duchess Arnett.
Setelah itu, nona Violetta kembali terdiam. Aku pun juga ikut terdiam karena aku tidak miliki hal yang ingin dibicarakan lagi. Lagipula nona Violetta kelihatannya sedang ingin fokus lihat jasad Duchess Arnett yang rupakan ibundanya, jadi aku tidak ingin ngganggunya.
Setelah sekitar 1-2 nit terdiam, nona Violetta lalu mulai berbicara kembali.
"Rid, karena kebetulan kamu ada disini, aku ingin minta tolong padamu," ucap nona Violetta.
"Minta tolong apa, nona ?," tanyaku.
"Kamu bisa nggunakan sihir es kan ? Tolong bekukanlah jasad ibundaku dengan sihir esmu. Aku ingin kondisi jasad ibundaku tetap awet dan terjaga karena aku ingin makamkan beliau setelah semua ini berakhir," ucap nona Violetta.
Setelah ndengar permintaan nona Violetta, aku pun langsung ngiyakan permintaan itu.
"Baiklah, nona. Aku akan mbekukan jasad beliau," ucapku.
Setelah itu, aku berjalan untuk nghampiri jasad Duchess Arnett yang sedang terbaring. Kemudian, aku ngarahkan tangan kananku ke arah Duchess Arnett dan bersiap untuk mbekukannya. Namun, belum sempat aku mbekukan jasad Duchess Arnett, nona Violetta tiba-tiba nghentikanku.
"Tunggu sebentar, Rid," ucap nona Violetta.
Kemudian nona Violetta ngangkat tangan kanannya hingga sejajar dengan dadanya. Dari telapak tangan kanannya itu tiba-tiba muncul beberapa bunga Lily putih, sama seperti dengan bunga Lily yang nuhi permukaan tempat ini. Setelah itu, nona Violetta naruh bunga Lily putih yang ada di tangan kanannya itu di dada Duchess Arnett. Kemudian, nona Violetta nggerakkan kedua tangan Duchess Arnett agar nyentuh dadanya dan juga bunga Lily putih yang ditaruhnya.
"Sudah selesai. Sekarang kamu bisa langsung mbekukan beliau, Rid," ucap nona Violetta.
"Baiklah, nona," ucapku.
Kemudian aku kembali ngarahkan tangan kananku ke arah Duchess Arnett untuk mbekukan beliau.
~Ice Magic : Ice Coffin~
Aku lalu mbekukan Duchess Arnett sama seperti aku mbekukan Raja Albert sebelumnya. Tubuh Duchess Arnett secara perlahan mulai mbeku. Tidak lama kemudian, tubuh beliau pun sudah mbeku sepenuhnya. Duchess Arnett kini berada di dalam bongkahan es yang berbentuk persegi panjang.
"Aku sudah mbekukan beliau, nona," ucapku.
"Terima kasih, Rid," ucap nona Violetta.
"Sama-sama, nona," ucapku.
Setelah itu, nona Violetta lihat kembali ke arah Duchess Arnett yang kini sudah berada di dalam bongkahan es itu. Tidak lama kemudian, nona Violetta lihat ke arahku kembali dan berbicara kepadaku.
"Setelah ini, kamu mau kemana, Rid ?," tanya nona Violetta.
"Aku mau pergi nyusul Charles dan Chloe. Sebelumnya kami bertiga sedang bersama sebelum diserang oleh nona Duchess Arnett, komandan Dayne dan senior Vyn. Aku lalu nyuruh reka untuk pergi lebih dulu dan ngatakan kalau aku akan nyusul reka setelah ngalahkan nona Duchess Arnett, komandan Dayne dan senior Vyn. Jadi karena sekarang reka bertiga sudah kalah, aku akan pergi untuk nyusul Charles dan Chloe....ke tempat tuan Duke Remy berada," ucapku.
Nona Violetta terlihat terkejut setelah aku ngatakan itu.
"Pangeran Charles dan putri Chloe saat ini sedang pergi ke tempat orang itu ?," tanya nona Violetta.
"Iya, nona. Setelah aku mbunuh Raja Albert yang rupakan ayah reka, reka tiba-tiba datang ke tempatku. reka sangat terkejut begitu ngetahui kalau ayah reka yang selama ini nghilang tiba-tiba muncul dalam kondisi yang sudah berubah njadi iblis. Aku mberitahu reka kalau kemungkinan orang yang sudah rubah ayah reka njadi iblis adalah tuan Duke Remy. Maka dari itu, reka berdua pun langsung bergegas pergi ke tempat tuan Duke Remy dan aku juga mutuskan ikut bersama reka," ucapku.
"Hmm begitu ya. Kalau begitu, aku ikut denganmu untuk pergi ke tempat orang itu," ucap nona Violetta.
"Anda ingin ikut pergi ke tempat tuan Duke Remy ?," tanyaku.
"Iya. Aku harus nemui orang itu, aku harus mbuatnya mbayar apa yang telah dia perbuat kepada ibundaku dan juga Alia yang sampai saat ini belum diketahui keberadaannya di labirin ini. Aku akan mbunuh orang itu dengan tanganku sendiri," ucap nona Violetta.
Aku rasakan hawa mbunuh dari nona Violetta setelah nona Violetta ngatakan itu.
-
Kembali ke lantai 1 gedung tengah, tempat Duke Remy dan Ratu Kayana berada.
Terlihat Duke Remy saat ini sedang ngangkat dan ncekik Ratu Kayana dengan tangan kanannya. Batang-batang pohon yang tumbuh di punggung Duke Remy terlihat sedang liuk-liuk di sekitar Ratu Kayana yang sedang dicekik. Ratu Kayana yang sedang dicekik oleh Duke Remy terlihat berusaha untuk lepaskan cekikan itu dengan kedua tangannya. Namun Ratu Kayana tidak mampu lepaskan cekikan itu karena saat ini dia sedang lemas dan kehabisan tenaga.
"Tidak peduli seberapa keras anda berusaha untuk lepaskan diri dari cekikanku ini, anda tidak akan bisa lepaskannya, Yang Mulia Ratu,"
"Aku akan terus ncekik anda sampai anda mati kehabisan nafas atau sebelum anda mati kehabisan nafas, aku akan nusuk anda dengan batang-batang pohon yang muncul di punggungku sampai anda mati. Pilihlah tode kematian yang anda mau, Yang Mulia Ratu ?," tanya Duke Remy.
Ratu Kayana tidak nanggapi pertanyaan Duke Remy. Dia masih terus berusaha untuk lepaskan diri dari cekikan Duke Remy.
"Tidak mau njawab ya. Kalau begitu biar aku yang pilih saja. Aku milih untuk terus ncekik anda sampai anda mati kehabisan nafas," ucap Duke Remy.
Duke Remy lalu mperkuat cekikannya di leher Ratu Kayana. Ratu Kayana semakin mberontak dan berusaha keras untuk lepaskan cekikan itu, tetapi dia tetap tidak bisa lepaskan cekikan itu. Beberapa detik kemudian, Ratu Kayana terlihat semakin lemas. Kedua tangannya pun sudah tidak mampu untuk lepaskan cekikan Duke Remy. Kedua tangan Ratu Kayana pun secara perlahan mulai jatuh ke posisinya semula setelah sebelumnya terangkat untuk lepaskan cekikan Duke Remy. Duke Remy yang lihat kedua tangan Ratu Kayana sudah tidak lagi gang tangan kanannya dan berusaha lepaskan cekikannya itu pun langsung tersenyum.
"Sepertinya anda sudah mulai kehabisan nafas. Hanya tinggal nunggu waktu saja sampai anda mati," ucap Duke Remy.
Duke Remy terus ncekik leher Ratu Kayana. Kedua mata Ratu Kayana terlihat mulai terpejam secara perlahan.
"Sudah waktunya ya. Kalau begitu, selamat tinggal, Yang Mulia Ratu," ucap Duke Remy.
Duke Remy terus ncekik leher Ratu Kayana dengan sangat kuat. Kedua mata Ratu Kayana terlihat sudah hampir terpejam seluruhnya. Namun sebelum kedua mata Ratu Kayana terpejam, dari arah samping Duke Remy tiba-tiba muncul sebuah tebasan air yang sangat besar dan sebuah panah yang dikelilingi oleh sihir api yang sangat besar. Kedua serangan itu lesat dengan cepat ke arah Duke Remy. Duke Remy yang sedang ncekik Ratu Kayana, tidak dapat bereaksi terhadap kedua serangan itu. Duke Remy pun terkena kedua serangan itu dengan telak dan mbuatnya terhempas hingga nghantam dinding yang berada di cukup jauh di sampingnya.
*BUMMMMM
Debu asap langsung nyelimuti tempat Duke Remy yang nghantam dinding. Sentara itu, Ratu Kayana yang sebelumnya dicekik oleh Duke Remy, sudah terlepas dari cekikan itu setelah kedua serangan yang tiba-tiba muncul itu ngenai dan nghempaskan Duke Remy. Setelah terlepas dari cekikan Duke Remy, Ratu Kayana kini sedang terbaring lemas di lantai dengan nafas yang sangat terengah-engah.
Disaat Ratu Kayana sedang terbaring, tiba-tiba ada 2 orang yang datang nghampirinya.
"Ibunda!!," ucap kedua orang itu yang rupakan Charles dan Chloe.
Ratu Kayana yang sedang terbaring lemas lalu lihat ke arah Charles dan Chloe yang nghampirinya.
"Kalian....kenapa kalian.....datang kesini ?," tanya Ratu Kayana.
"Kami berdua datang kesini untuk mbantu dan nyelamatkan, ibunda," ucap Charles.
"Itu benar, ibunda," ucap Chloe.
"Kalian segeralah pergi.....dari sini. Aku bukan bermaksud...untuk rehkan kalian berdua, tetapi...kalian berdua tidak akan bisa untuk.....mbantuku, terutama dalam lawan orang itu. Orang itu....adalah orang yang sangat berbahaya. Selain itu.....kalian juga tidak akan bisa.....nyelamatkanku karena.....orang itu tidak akan mbiarkan kalian," ucap Ratu Kayana.
"Itu benar," ucap Duke Remy yang masih berada di tempat dia nghantam dinding.
Tempat itu masih diselimuti oleh banyak debu asap. Charles dan Chloe yang ndengar perkataan Duke Remy pun langsung noleh ke arah Duke Remy.
"Suara itu.....Sebelumnya aku ngira kalau orang yang nyerang ibunda adalah orang lain karena orang itu terlihat sedang makai armor di seluruh tubuhnya. Tetapi setelah ndengar suaranya, tidak salah lagi kalau itu adalah suara tuan Remy," ucap Charles.
"Iya, kamu benar, kak. Jadi ternyata mang tuan Remy lah yang lakukan semua ini," ucap Chloe.
Kemudian, sebuah bayangan orang yang sedang berjalan tiba-tiba muncul di kepulan asap yang masih nyelimuti tempat Duke Remy. Bayangan itu terlihat sedang berjalan keluar dari kepulan asap itu. Tidak lama kemudian, orang yang berada dalam kepulan asap itu pun keluar dan orang itu adalah Duke Remy. Terlihat Duke Remy sama sekali tidak ngalami luka setelah terkena serangan Charles dan Chloe. Bahkan serangan Charles dan Chloe juga tidak mampu nggores armor yang dikenakannya.
"Saya tidak nyangka kalau orang yang nyerang saya dan ngganggu saya saat saya ingin mbunuh Yang Mulia Ratu adalah putra dan putri kesayangan Yang Mulia Ratu. Untuk apa kalian berdua datang kemari ? Apa kalian berdua ingin mati bersama dengan ibunda kalian ?," tanya Duke Remy.
Setelah ndengar perkataan Duke Remy, Charles dan Chloe langsung bersiap untuk nyerang dengan nggunakan senjata reka.
"Kami berdua tidak akan mati, begitupun juga dengan ibunda kami. Orang yang akan mati adalah anda, tuan Remy!!," ucap Charles dan Chloe.
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)