Font Size
15px

Kereta kuda yang kami tumpangi pun terus laju di jalanan kota San Estella. Tidak lama kemudian, kereta kuda yang kami tumpangi pun telah lewati gerbang ibukota San Estella dan terus laju nuju desa Aston

Di sepanjang perjalanan nuju desa Aston, aku sering kali lamun sambil lihat ke arah luar jendela yang ada di kereta kuda itu. Aku lamun karena teringat dengan kenanganku bersama para warga desa Aston.

Sentara itu, Irene terlihat sedang lihat ke arah Rid yang sedang lamun.

"Rid...," ucap Irene.

Lalu, saat aku sedang lamun, tiba-tiba tangan kananku digenggam oleh tangan seseorang. Aku yang sedang lamun pun langsung tersadar dan lihat ke tanganku yang sedang digenggam oleh seseorang. Ternyata orang yang sedang nggenggam tanganku adalah Irene. Aku pun langsung lihat ke arah Irene.

"Kenapa kamu lamun, Rid ? Apa kamu masih mikirkan para warga desamu ?," tanya Irene.

"Iya. Aku lamun karena teringat dengan kenanganku ketika bersama reka dulu. Sebelum aku masuk ke akademi ini, seluruh waktu yang aku punya selalu kuhabiskan bersama reka. Entah itu saat berburu, berladang, berkebun atau yang lainnya, aku sekali lakukan aktivitas itu bersama orang-orang di desaku. Setelah kakekku ninggal, reka semua lah yang rawatku. Tetapi, sekarang reka semua telah tiada. Aku masih tidak nyangkanya padahal saat di gedung pengadilan, aku masih sempat bertemu reka,"

"Karena reka saat ini sudah tiada, sepertinya mulai saat ini aku akan sendirian. Aku juga tidak akan miliki tempat untuk pulang lagi karena pastinya rumah kakek pun juga telah hancur setelah diserang oleh orang-orang yang nyerang desa itu. skipun jika desa itu akan dibangun kembali, suasananya akan tetap berbeda tanpa adanya reka," ucapku.

Aku berusaha berekspresi seperti biasa ketika ngatakan itu, skipun perasaanku saat ini sedang sangat sedih. Setelah aku ngatakan itu, Irene nggenggam tanganku dengan lebih erat.

"Kamu tidak akan sendirian, Rid, karena kamu masih mpunyai banyak teman di akademi. skipun kamu sudah lulus nanti, teman-temanmu pastinya tidak akan lupakanmu. Selain teman-temanmu, masih ada aku juga. Lalu, jika kamu tidak miliki tempat untuk kembali ataupun pulang setelah lulus nanti, kamu bisa ikut denganku untuk tinggal di kediamanku jika kamu mau," ucap Irene.

Aku terdiam setelah ndengar perkataan Irene, lalu tidak lama kemudian aku pun mulai berbicara kembali.

"Kamu ada benarnya, Irene. ski orang-orang di desaku sudah tiada, aku masih miliki kamu dan teman-teman yang peduli denganku. Lalu, soal tawaranmu untuk ikut tinggal di kediamanmu, aku berterima kasih atas tawaranmu itu, Irene. Tetapi aku belum akan nyetujuinya, aku akan mikirkannya terlebih dahulu," ucapku.

"Tidak masalah jika kamu masih mau mikirkannya, lagipula masih ada banyak waktu sampai kita lulus," ucap Irene.

"Iya," ucapku.

Sentara itu, nona Karina yang sejak tadi hanya diam saja pun mulai berbicara.

"Ya ampun, kalian itu sra sekali ya. Yah skipun kesraan kalian tidak mbuatku iri," ucap nona Karina.

"sra apanya, nona ? Kami berdua hanya berbicara normal seperti biasa," ucapku.

"Dari sudut pandangmu mungkin apa yang kalian lakukan tadi tidak sra, tetapi dari sudut pandang orang lain yang lihat kalian itu tentu saja akan bilang kalau kalian sra. Yah lupakan dulu soal itu, daripada itu, aku rasa lega bisa lihat sisi lain dirimu, Rid," ucap nona Karina.

"Lega kenapa, nona ?," tanyaku.

"Biasanya, kamu terlihat bersikap tenang tanpa kekhawatiran apapun. Dulu, saat di gedung pengadilan ketika kamu sedang njalani sidang, kamu juga terlihat tenang. Padahal hasil dari sidang itu bisa saja mbuatmu ndapatkan hukuman yang berat, tetapi kamu masih bisa tenang. Kamu juga selalu berekspresi senang, kamu tidak pernah nunjukan ekspresi sedih sedikitpun. Namun sekarang, kamu terlihat khawatir dan sedih ketika sedang mbicarakan para warga desamu itu. Itu nandakan kamu sama seperti orang-orang pada umumnya, karena itu aku rasa lega bisa lihat sisi lain dirimu itu, Rid," ucap nona Karina.

"Hmmm begitu ya. Jika nona Karina berkata seperti itu, apa itu berarti nona Karina nganggap kalau aku tidak bisa rasa khawatir atau bersedih ?," tanyaku.

"Ya, jujur saja aku sebelumnya mang nganggap begitu. Aku minta maaf karena telah nganggapmu seperti itu," ucap nona Karina.

"Tidak perlu minta maaf, nona. Lagipula nona nganggapmu seperti itu karena nona tidak tahu. Aku sebenarnya bisa rasa khawatir, bersedih atau yang lainnya, cuma aku tidak pernah nunjukkannya kepada orang lain karena aku takut reka jadi khawatir. Maka dari itu aku selalu berekspresi seperti biasa skipun perasaanku sebenarnya sedang bertolak belakang dengan ekspresi yang aku tampilkan. Tetapi aku tidak nyangka kalau anda bisa tahu kalau aku sedang khawatir dan sedih, nona. Padahal aku sudah nampilkan ekspresi normal seperti biasa," ucapku.

"Ekspresimu mang terlihat normal seperti biasanya, tetapi aku bisa masih bisa ngetahui apa yang sedang kamu rasakan. Yah anggap aja itu rupakan salah satu keahlianku," ucap nona Karina.

"Begitu ya. Ngomong-ngomong, karena nona sudah tahu tentang aku yang tidak pernah nunjukkan ekspresi lain agar orang-orang tidak khawatir, aku harap nona tidak mberitahu tentang hal ini ke orang lain," ucapku.

"Tenang saja, aku tidak akan mberitahunya. Lagipula tidak ada untungnya aku mberitahu tentang itu," ucap nona Karina.

"Terima kasih, nona. Kamu juga, Irene, tolong jangan beritahu yang lainnya," ucapku.

"Iya," ucap Irene.

Setelah itu, kami pun lanjut ngobrol di dalam kereta kuda itu, sentara kereta kuda itu terus laju nuju ke desa Aston.

-

3 jam kemudian.

Kereta kuda yang kami tumpangi pun telah tiba di gerbang desa Aston. Terlihat seluruh bangunan yang ada di desa itu sudah hancur terbakar. Lalu, di sekitar gerbang desa tersebut juga terlihat ada banyak prajurit yang ngenakan seragam dengan lambang burung rak. Prajurit tersebut rupakan prajurit dari pasukan Silver Peacock. Begitu tiba di desa Aston, kereta kuda yang kami tumpangi pun mulai berhenti dan kami pun mulai turun dari kereta kuda itu. Ketika kami baru saja turun, terlihat beberapa prajurit Silver Peacock langsung nghampiri kami.

"Kepala akademi, lalu Rid Archie dan putri Irene, ada keperluan apa kalian bertiga kemari ?," tanya salah satu prajurit.

"Kelihatannya prajurit itu ngetahui tentang kami bertiga. Aku wajarkan apabila prajurit itu tahu tentang nona Karina dan Irene yang rupakan putri seorang Duke, tetapi aku tidak nyangka kalau prajurit itu juga tahu tentangku dan langsung manggil namaku. Apa mungkin aku sangat populer di kerajaan ini lebihi dari apa yang aku kira sehingga banyak orang yang tahu tentangku hanya dengan lihatku ?," pikirku.

Setelah itu, nona Karina pun njawab pertanyaan prajurit itu.

"Sebenarnya aku tidak mpunyai keperluan pribadi di desa ini, aku datang kesini hanya untuk nemani Rid. Dia ingin ngunjungi desa ini setelah ndapatkan kabar kalau desa ini telah diserang," ucap nona Karina.

"Aku juga datang kesini untuk nemani, Rid, sebagai pacarnya," ucap Irene.

"Ah benar juga, di surat kabar yang terbit hari ini nyebutkan kalau desa Aston rupakan desa tempat asal Rid Archie. Jadi kamu datang kesini untuk mberikan penghormatan terakhir kepada para warga desa yang telah tewas ?," tanya prajurit itu.

"Benar, tuan. Namun aku ingin bertanya terlebih dahulu, apakah para warga desa ini yang telah tiada sudah dimakamkan atau belum ?," tanyaku.

"reka semua telah dimakamkan sekitar 1 jam yang lalu," ucap prajurit itu.

"Begitu ya, sepertinya aku terlambat. Kalau begitu, bisakah anda mberitahu dimana reka dimakamkan ? Aku ingin ngunjungi makam reka," ucapku.

"reka dimakamkan di pemakaman yang berada di dekat desa Aston. Pemakaman itu adalah pemakaman yang biasanya digunakan warga desa Aston untuk makamkan warga lain yang telah ninggal. Biar aku antar kalian ke pemakaman itu," ucap prajurit itu.

"Terima kasih, tuan," ucapku.

"Tetapi sebelum itu, aku mau mberikan laporan terlebih dahulu kepada komandan Keira. Komandan Keira saat ini ada di bagian tengah desa Aston bersama dengan Viscount Ivan," ucap prajurit itu.

"Jadi tuan Ivan juga datang ya," ucapku.

"Iya, beliau bahkan juga hadir di pemakaman para warga desa Aston yang telah tewas. Aku akan antarkan kalian untuk nemui reka terlebih dahulu," ucap prajurit itu.

"Baik, tuan," ucapku.

Lalu prajurit itu dan beberapa prajurit lainnya pun berjalan nuju bagian tengah desa Aston, sentara aku ngikut para prajurit itu dari belakang bersama dengan Irene dan nona Karina. Beberapa saat kami berjalan, kami pun sampai di bagian tengah desa Aston. Aku lihat ada lebih banyak prajurit di bagian tengah desa dan sekitarnya daripada di gerbang desa. Di antara banyaknya prajurit itu, aku lihat komandan Keira yang sebelumnya pernah bertemu denganku di kota San Minerva. Komandan Keira terlihat sedang berbicara dengan seorang pria yang tampak tidak begitu tua, umur pria tersebut berada di kisaran 30-40 tahun. Pria tersebut adalah Viscount Ivan Julion Louis, seorang pemimpin beberapa desa di wilayah San Minerva. Desa Aston termasuk salah satu desa yang beliau pimpin.

Lalu, kami berjalan nuju komandan Keira dan Viscount Ivan yang sedang ngobrol. Komandan Keira nampak ngetahui kalau kami sedang berjalan ke arahnya, dia pun langsung noleh ke arah kami.

"Komandan, saya datang kesini untuk ngantarkan beberapa tamu," ucap prajurit yang ngantarkan kami.

"Tamu ya. Kepala akademi, putri Irene dan juga Rid Archie, aku tidak nyangka kalau aku akan kedatangan tamu tidak terduga. Ada perlu apa kalian datang kemari ?," tanya komandan Keira.

"Aku datang kemari hanya untuk nemani Rid yang ingin berkunjung ke desanya setelah ndapatkan kabar kalau desanya telah diserang. Karena saat ini akademi juga sedang libur, aku ngizinkankan Rid untuk pergi ngunjungi desanya," ucap nona Karina.

"Saya datang kesini juga untuk nemani Rid," ucap Irene.

"Hmmm begitu ya. Rid Archie, ini pertemuan kita yang kedua kali setelah sebelumnya kita bertemu di kota San Minerva. Saat itu aku tidak tahu kamu siapa dan kamu pun pastinya belum tahu siapa aku. Izinkan aku untuk mperkenalkan diriku, namaku adalah Keira Rauch, aku adalah komandan pasukan Silver Peacock yang ditugaskan untuk njaga wilayah bagian selatan kerajaan San Fulgen. Salam kenal," ucap komandan Keira.

"Iya, salam kenal juga, komandan," ucapku.

"Aku sudah tahu kalau desa Aston rupakan desa tempatmu berasal sebelum kamu njadi murid akademi. Aku turut berduka cita atas penyerangan yang terjadi di desamu ini dan tewasnya semua warga di desa ini. Aku minta maaf karena aku tidak tahu kalau desamu sedang diserang. Saat aku nerima laporan dari Yang Mulia Ratu kalau beliau tidak bisa nghubungi para prajurit yang ditugaskan untuk ngantarkan barang ke desamu, aku dan para prajuritku langsung bergegas pergi ke desamu. Tetapi saat kami sampai di desamu, desamu ini telah terbakar dan seluruh orang di desa ini pun telah tewas," ucap komandan Keira.

"Tidak apa-apa, komandan, anda tidak perlu minta maaf. Aku wajarkan apabila anda tidak tahu kalau desaku sedang diserang karena wilayah San Minerva pun sangat luas. Tidak mungkin anda langsung tahu kalau ada sesuatu yang terjadi di suatu tempat di wilayah San Minerva ini, sama seperti tidak mungkin anda langsung tahu kalau desaku sedang diserang. Kalaupun anda sudah tahu, anda mungkin terlambat untuk mbantu," ucapku.

"Iya, yang kamu bilang itu benar. Tetapi aku tetap ingin minta maaf kepadamu," ucap komandan Keira sambil sedikit mbungkuk.

"Baiklah, aku nerima permintaan maaf dari anda, komandan," ucapku.

Setelah itu, Viscount Ivan datang nghampiriku.

"Lama tidak jumpa, Rid," ucap Viscount Ivan.

"Ya, lama tidak jumpa, tuan Ivan," ucapku.

Aku ngenal tuan Ivan karena saat aku masih tinggal di desa Aston, tuan Ivan sering datang ke desa Aston.

"Aku turut berduka cita atas tewasnya seluruh warga desa Aston, Rid. Kamu yang sabar dan tabah ya, Rid," ucap Viscount Ivan.

"Iya, terima kasih, tuan," ucapku.

"Lalu aku juga ingin minta maaf karena tidak bisa ncegah atau mbantu desa Aston ketika sedang diserang. Aku baru ngetahui tentang penyerangan desa Aston ketika aku ndapatkan kabar kalau desa itu telah terbakar dan seluruh warga desa itu pun telah tewas. Aku minta maaf," ucap tuan Ivan sambil sedikit mbungkuk.

"Anda tidak perlu minta maaf, tuan. Ini sama sekali bukan kesalahan anda. Tolong angkat kepala anda," ucapku.

"Baiklah, Rid," ucap Viscount Ivan.

Viscount Ivan pun mulai ngangkat kepalanya kembali secara perlahan.

"Ngomong-ngomong, Rid, apa salah satu alasan kamu datang kesini karena ingin nghadiri pemakaman warga desa ini ?," tanya Viscount Ivan.

"Iya, tuan. Tetapi saya sudah diberitahu kalau semua warga desa ini telah dimakamkan," ucapku.

"Iya, semua warga desa ini telah dimakamkan di pemakaman yang berada di dekat desa Aston," ucap Viscount Ivan.

"Saya mau ngunjungi makam reka, tuan," ucapku.

"Baiklah, kalau begitu biar aku antar," ucap Viscount Ivan.

"Aku juga ikut untuk ngantarmu," ucap komandan Keira.

"Terima kasih, tuan Ivan, komandan Keira," ucapku.

"Iya. Lalu, kalian yang baru saja ngantar kepala akademi, Rid Archie dan putri Irene, silahkan kembali. Terima kasih karena telah ngantar reka kesini," ucap komandan Keira.

"Baik, komandan," ucap para prajurit yang tadi ngantar kami kesini.

"Ayo kita pergi," ucap komandan Keira.

Lalu kami pun berjalan nuju pemakaman yang berada di dekat desa Aston, tepatnya di bagian selatan desa Aston. Tak lama kami berjalan, kami pun telah sampai di depan pemakaman desa Aston. Kemudian, kami pun berhenti dan lihat ke sekeliling pemakaman itu. Di sisi lain pemakaman itu, terlihat ada banyak pemakaman baru dan di setiap makam itu juga telah ditaburi oleh banyak bunga.

"Makam-makam yang baru itu adalah makam para warga desa Aston yang baru saja tewas, Rid," ucap Viscount Ivan.

"Makam reka sudah ditaburi oleh banyak bunga. Sepertinya aku tidak perlu naburi bunga lagi ke makam reka," ucapku.

Setelah itu, aku mulai berjalan ke arah makam-makam yang baru itu. Sentara itu, aku ndengar ada langkah kaki yang ngikutiku dari belakang. Aku pun langsung noleh ke belakang. Ternyata reka semua yang ngantarku ke pamakaman ini juga ngikutiku ketika aku mau pergi ke makan-makam yang baru itu.

"Aku minta maaf, semuanya. Aku minta tolong kalian jangan ngikutiku dulu saat ini. Aku ingin ngunjungi reka seorang diri terlebih dahulu," ucapku.

"Baiklah, Rid," ucap nona Karina.

"Apa kamu yakin, Rid ?," tanya Irene.

"Iya. Kamu tidak perlu khawatir, Irene," ucapku.

"Baiklah kalau begitu," ucap Irene.

Lalu Irene dan nona Karina pun berhenti untuk ngikutiku dan mutuskan untuk nungguku di tempat reka berhenti saat ini. Komandan Keira dan Viscount Ivan pun juga lakukan hal yang sama. Kemudian, aku pun lanjutkan langkahku untuk nuju ke makam-makam yang baru itu. Setelah sampai di tempat makam-makam yang baru itu, aku pun berhenti tepat di depan makam-makam yang baru itu. Kemudian aku lihat dan mperhatikan makam-makam itu satu per satu. Ada makam yang bertuliskan nama paman Bill, paman Dean, paman Isaac, Eric dan yang lainnya. Aku kenal semua nama yang ada pada makam-makam itu.

"Semuanya, aku pulang. Aku mutuskan pulang ke desa Aston untuk ngunjungi kalian. Padahal belum lama ini beberapa dari kalian datang ke gedung pengadilan untuk nyemangatiku saat ingin njalani sidang. Aku tidak nyangka kalau kita akan berpisah secepat ini. Aku kira aku masih akan bisa bertemu dengan kalian lagi, namun aku tidak nyangka kalau pertemuan kita di gedung pengadilan rupakan pertemuan kita yang terakhir kalinya,"

"Aku ingin minta maaf kepada kalian apabila selama ini aku miliki banyak salah kepada kalian. Aku juga ngucapkan terima kasih kepada kalian karena telah rawatku dengan baik setelah ninggalnya kakekku. skipun kita telah berpisah untuk selamanya, aku tidak akan pernah lupakan kalian,"

"Sangat disayangkan kalian tidak bisa lihatku saat aku sudah wujudkan impianku untuk mbuat dunia ini damai, bahkan aku juga belum bisa mbuat perubahan di kerajaan ini untuk bisa diperlihatkan kepada kalian. ski begitu, aku akan terus berusaha wujudkan impianku itu. Aku akan wujudkan impianku demi kalian yang sudah berada di tempat lain,"

"Lalu.....," ucapku sambil mulai jamkan mata.

Setelah itu, tiba-tiba udara di sekitar pemakaman itu terasa berat. Nona Karina, komandan Keira, Irene dan Viscount Ivan yang sedang lihat ke arah Rid yang berada di pemakaman terlihat terkejut ketika ngetahui kalau udara di tempat itu mulai berubah.

"Ini kan.....," ucap komandan Keira.

"Tekanan ini, jangan bilang...," ucap nona Karina.

Udara di tempat itu secara perlahan mulai bertambah berat sampai mbuat komandan Keira, nona Karina, Irene dan Viscount Ivan kesulitan bernafas. Tidak hanya di sekitar pemakaman saja, udara yang berat itu juga terasa hingga ke seluruh desa Aston dan mbuat seluruh prajurit yang berada di desa Aston kesulitan bernafas.

"Ini kan.....tekanan yang biasanya dikeluarkan.....Yang Mulia Ratu ketika beliau.....sedang marah. Apa beliau datang...kemari ?,"

"mang, tetapi aku tidak....tahu apakah yang lakukan ini.....adalah Yang Mulia Ratu atau.....tidak," ucap para prajurit yang berada di desa Aston.

reka berbicara dengan terbara-bata karena reka sedang kesulitan bernafas.

Sentara itu, kembali ke tempat nona Karina, komandan Keira, Irene dan Viscount Ivan. reka berempat terlihat masih kesulitan untuk bernafas.

"Tekanan ini mirip seperti tekanan aura yang biasanya dilakukan oleh Yang Mulia Ratu. Tetapi, tekanan aura ini nampak berbeda," pikir komandan Keira.

"Ini bukan tekanan aura yang biasanya dilakukan oleh kakak. Tekanan aura ini lebih kuat dari tekanan aura yang biasanya dilakukan kakak karena tekanan ini bahkan bisa mbuatku kesulitan bernafas. Dan yang lebih ngejutkannya lagi, tekanan aura ini berasal dari Rid. Bagaimana bisa kamu ngeluarkan tekanan aura sebesar ini, Rid ?," pikir nona Karina.

"Rid....," ucap Irene yang juga sedang kesulitan bernafas.

reka berempat yang sedang kesulitan bernafas terus lihat ke arah Rid yang sedang berdiri di depan makam-makam yang baru itu.

Sentara itu, aku mulai lanjutkan perkataanku yang sebelumnya tertunda.

"...soal orang yang telah nyerang desa dan mbunuh kalian semua, kalian tidak perlu khawatir. Aku lah yang akan ngurusnya," ucapku.

Lalu aku mulai mbuka mataku secara perlahan.

"Aku berjanji akan mbalaskan dendam kepada reka yang telah nyerang desa dan mbunuh kalian semua. Aku akan mbalas dendam dengan mbunuh reka semua yang terlibat dalam pembunuhan kalian," ucapku.

-Bersambung.

You are reading Peace Hunter Chapter 313 : Pemakaman Desa Aston on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Data-Driven Daoist cover
Trending now

Data-Driven Daoist

CatVI ·Action

Theycalledhimtrash—untilhestartedtreatingtheDaolikeaDataset.Whendemonsslaughterhisnewfamily,computerscientistJohan—nowrebornasYuHan—survivesbypurew...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.