Di tempat latihan tahun kedua.
Aku baru saja selesai latih tanding dengan Noa dan Charles.
"Sial, kita kalah lagi. Sepertinya ngalahkan Rid mang sulit bagi kita," ucap Noa.
"Ya, kamu benar, Noa. ski begitu, kita berdua harus tetap berusaha untuk ngalahkannya, atau setidaknya mbuat dia kesulitan saat berlatih tanding dengan kita," ucap Charles.
"Iya. Untuk sekarang kita sudahi saja latih tanding kita ini, besok tolong berlatih tanding dengan kita berdua lagi, Rid," ucap Noa.
Sentara itu, setelah selesai berlatih tanding dengan Noa, aku terdiam sambil mikirkan tentang desa Aston dan orang-orang yang telah tewas di desa tersebut. Aku terus terdiam sambil mikirkan itu sampai aku tidak sadar kalau Noa sedang manggilku.
"Hei, Rid!," ucap Noa yang tiba-tiba sudah berada di sampingku.
Aku pun sedikit terkejut ketika ngetahui kalau Noa sudah berada di sampingku.
"Ah, Noa, ada apa ?," tanyaku.
"Apa kamu tidak ndengar apa yang tadi aku katakan ?," tanya Noa.
"Maaf, barusan aku sedang lamun jadinya aku tidak ndengar apa yang kamu katakan. mangnya kamu ngatakan apa, Noa ?," tanyaku.
"Aku bilang kalau besok tolong berlatih tanding lagi denganku dan Charles," ucap Noa.
"Ah, jadi itu yang kamu katakan. Baiklah, mari kita berlatih tanding lagi besok," ucapku.
"Tumben sekali lihat kamu lamun, Rid. mangnya apa yang kamu lamu kan ?," tanya Charles yang sedang berjalan ndekatiku.
Sepertinya Charles ndengar perkataanku barusan yang berkata kalau aku sedang lamun.
"Bukan apa-apa. Hal yang aku lamunkan tadi bukanlah suatu hal yang penting," ucapku.
"Begitu ya," ucap Charles.
Sentara itu, Irene yang baru saja berlatih tanding dengan Chloe terlihat sedang lihat ke arah Rid.
-
Setelah lakukan latihan di tempat latihan tahun kedua, aku pun langsung kembali ke asramaku. Irene juga ikut ke asramaku untuk numpang mandi di asramaku sekalian nyiapkan sarapan setelah dia mandi. Saat Irene sedang mandi, aku hanya duduk terdiam di ruang tengah yang rupakan ruang makan. Aku terus duduk terdiam sampai tidak sadar kalau Irene sudah selesai mandi dan dia sedang berada di sampingku sambil manggilku.
"Rid," ucap Irene.
"Hmmm ? Ah maaf, Irene, aku tidak tahu kalau kamu sejak tadi ada di sampingku. Ada apa ?," tanyaku.
"Aku hanya ingin mberitahumu kalau aku sudah selesai mandi. Kamu bisa nggunakan kamar mandinya agar kamu bisa mandi," ucap Irene.
"Begitu ya. Baiklah, aku akan segera mandi," ucapku.
Aku pun segera bangun dari tempatku duduk dan bersiap untuk ke kamar mandi. Namun saat aku hendak berjalan ke kamar mandi, Irene ngatakan sesuatu kepadaku.
"Apa ada sesuatu yang terjadi, Rid ? Sejak tadi aku lihatmu terus lamun," ucap Irene.
Aku pun berhenti lalu noleh ke arah Irene. Aku masang ekspresi yang sama seperti yang biasa aku gunakan agar Irene tidak ngetahui kalau sebenarnya mang ada sesuatu yang terjadi.
"Tidak ada, Irene. Aku mang lamun tetapi aku hanya lamunkan hal yang tidak penting. Maaf karena telah mbuatmu khawatir. Kalau begitu, aku pergi mandi dulu," ucapku.
"Jangan bohong, aku tahu kalau kamu nyembunyikan sesuatu, Rid. ski dari luar kamu terlihat seperti kamu yang biasanya, tetapi aku tahu kalau kamu sedang nyembunyikan sesuatu. Pasti ada sesuatu yang terjadi kan ?," tanya Irene.
Aku sedikit terkejut setelah ndengar perkataan Irene. Aku tidak nyangka kalau dia tahu kalau aku sedang nyembunyikan sesuatu. Tetapi ski aku sedikit terkejut, aku tetap masang ekspresi normal seperti biasa.
"Aku tidak nyembunyikan sesuatu, Irene. Aku mang hanya lamunkan hal yang tidak penting," ucapku.
Irene lalu berjalan nghampiriku dan kini dia sudah ada di hadapanku.
"Aku sudah bilang untuk jangan berbohong, Rid. Aku tahu kalau kamu sedang nyembunyikan sesuatu. Aku tahu itu karena kita sudah saling ngenal cukup lama, kita sudah saling ngenal selama 1,5 tahun. Karena perjanjian yang kita buat, hubungan kita pun njadi saling dekat. Karena itu, aku tahu seperti apa dirimu dan kebiasaanmu,"
"Selama 1,5 tahun kita saling ngenal, aku tidak pernah lihatmu seperti ini. Karena itu, aku yakin pasti ada sesuatu yang terjadi kepadamu. Sekarang katakan kepadaku, Rid, sesuatu apa yang terjadi kepadamu itu ?," tanya Irene.
Aku pun terdiam setelah ndengar perkataan Irene.
"Tolong jangan berbohong lagi, Rid. Jika kamu berbohong lagi dan berkata kalau tidak ada sesuatu yang terjadi, maka lebih baik kita akhiri saja perjanjian yang telah kita buat," ucap Irene.
Aku pun tetap terdiam setelah ndengar perkataan Irene. Setelah beberapa saat terdiam, aku pun jamkan mataku sambil narik nafas dalam-dalam. Kemudian, aku nghela nafas sambil mbuka mataku secara perlahan.
"Baiklah, aku akan mberitahu apa yang sedang terjadi kepadaku. Tetapi aku akan nceritakannya nanti setelah aku mandi. Tidak apa-apa kan, Irene ?," tanyaku.
"Baiklah. Kalau begitu, selagi kamu mandi, aku akan mbuat sarapan. Lebih baik kamu nceritakannya setelah kita sarapan saja," ucap Irene.
"Baiklah. Kalau begitu aku mandi dulu," ucapku.
"Iya," ucap Irene.
Lalu aku pun langsung pergi ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, Irene pun telah mbuat sarapan dan kami pun langsung sarapan bersama. Setelah sarapan, Irene langsung duduk di sebelahku dan bertanya tentang apa yang dia tanyakan tadi.
"Jadi, apa yang sedang terjadi kepadamu sehingga mbuatmu terus lamun sejak tadi, Rid ?," tanya Irene.
Aku pun terdiam sebentar, lalu tidak lama kemudian aku mulai njawab pertanyaan Irene.
"Sebenarnya alasan aku lamun karena aku sedang kepikiran kampung halamanku," ucapku.
"Kampung halamanmu ? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan kampung halamanmu ?," tanya Irene.
"Iya, saat aku hendak pergi nuju tempat latihan tadi pagi, nona Karina tiba-tiba datang nemuiku. Sepertinya beliau tahu kalau aku sering latihan di pagi hari, makanya beliau langsung nemuiku saat itu. Kemudian, beliau nerima laporan dari Yang Mulia Ratu kalau kampung halamanku, yaitu desa Aston telah diserang dan seluruh orang yang berada di desa tersebut telah tewas," ucapku.
Irene pun terkejut setelah ndengar perkataanku.
"Apa ?! kampung halamanmu telah diserang ?! Siapa yang nyerang kampung halamanmu ?!," tanya Irene.
"nurut Yang Mulia Ratu, pelaku yang nyerang kampung halamanku kemungkinan adalah pelaku yang sama dengan pelaku yang rencanakan pembunuhan terhadap Yang Mulia Ratu dan seluruh keluargamu, Irene. Kemungkinan pelaku tersebut dendam kepadaku karena aku telah berhasil nguak rencana pembunuhan yang dibuatnya. Pelaku tersebut pun langsung mbalas dendam dengan nyerang kampung halamanku," ucapku.
"Begitu ya, jadi pelaku tersebut kemungkinan adalah pelaku yang sama dengan pelaku yang rencanakan pembunuhan. Jika mang begitu, berarti hal ini juga rupakan salahku, Rid. Aku lah yang sudah nyeretmu dalam kasus ini. Aku mbuatmu njalin hubungan pura-pura denganku. Karena hal itu, kamu jadi diserang oleh orang yang rencanakan pembunuhan yang libatkanku dalam rencananya itu. ski kamu berhasil ngatasi orang yang telah nyerangmu, orang itu langsung mbalas dendam dengan nyerang kampung halamanmu dan mbunuh orang-orang disana. Ini semua salahku, Rid, aku benar-benar sangat minta maaf," ucap Irene sambil mbungkuk ke arahku.
Aku pun lihat ke arah Irene yang sedang mbungkuk. Kemudian, aku ngarahkan tangan kananku ke atas kepala Irene dan ngelusnya.
"Kamu tidak perlu minta maaf karena kamu tidak salah sama sekali, Irene. Jika ada orang yang harus disalahkan, maka orang itu rupakan pelaku yang telah nyerang kampung halamanku. Jika mang pelaku yang nyerang kampung halamanku adalah orang yang sama dengan pelaku yang rencanakan pembunuhan, maka dia sangat pantas untuk disalahkan. Semua kejadian yang terjadi di kerajaan ini, semuanya berasal dari dia," ucapku.
Irene lalu secara perlahan mulai berhenti mbungkuk dan kembali ke posisi normalnya. Wajah Irene saat ini sedang lihat ke wajahku.
"Jadi kamu tidak perlu rasa bersalah, Irene. Lagipula aku sama sekali tidak nyesal karena telah mbuat perjanjian denganmu," ucapku sambil tersenyum.
Aku ngatakan hal itu sambil terus ngelus kepala Irene, sentara Irene hanya diam saja saat ndengar perkataanku.
"ski kamu baru saja ngalami kehilangan orang-orang yang kamu kenal di kampung halamanmu, aku takjub lihatmu yang masih bisa tersenyum, Rid. Tetapi.....," ucap Irene.
Tiba-tiba Irene langsung gang kepalaku dengan kedua tangannya. Kemudian, dia langsung ndekapkan kepalaku ke dadanya.
"....Sudahi saja ekspresi palsu yang kamu tunjukkan sejak tadi, Rid. Lebih baik sekarang kamu ungkapkan perasaanmu yang sebenarnya. Jika kamu ingin bersedih dan nangis, silahkan saja. Lagipula saat ini aku tidak bisa lihat wajahmu, jadi kalaupun kamu mau nangis, aku tidak akan bisa lihat wajah nangismu itu," ucap Irene.
Aku pun terdiam beberapa saat setelah ndengar perkataan Irene.
"Kenapa kamu lakukan ini, Irene ? Padahal kamu tidak perlu lakukan ini, bukankah lebih baik kamu ngabaikanku saja ?," ucapku.
"Entahlah, aku hanya rasa ingin lakukan ini," ucap Irene.
"Begitu ya. Tetapi apa kamu yakin tentang hal ini, Irene ? Kamu ndekapku hingga seperti ini," ucapku.
"Iya, jika aku tidak yakin, maka aku tidak akan lakukannya," ucap Irene.
"Kamu ada benarnya. Kalau begitu, izinkan aku berada di dekapanmu selama beberapa nit," ucapku.
"Selama beberapa jam juga tidak masalah, Rid," ucap Irene.
"Itu terlalu lama, Irene," ucapku.
"Ahaha," tawa Irene.
Aku ndengar sesuatu yang langka, yaitu suara tawa Irene. Tetapi sayangnya dengan posisiku saat ini, aku tidak bisa lihat wajah Irene saat sedang tertawa. Tetapi aku tidak begitu mperdulikannya. Kemudian, aku pun jamkan mataku untuk bisa ngungkapkan perasaanku yang sebenarnya ketika berada di dekapan Irene.
-
Sentara itu, sekitar pukul 6.30 pagi.
Surat kabar dari Diganta pun telah terbit. Surat kabar itu lalu nyebar hingga ke seluruh kerajaan San Fulgen. Di surat kabar itu, ada sebuah berita yang tercantum di halaman utama surat kabar itu. Berita yang tercantum di surat kabar itu adalah berita tentang insiden penyerangan di salah satu desa yang berada di wilayah San Minerva. Desa itu adalah desa Aston, desa tempat asal Rid Archie yang rupakan ’pahlawan San Fulgen Akademiya’ dan ’pahlawan kerajaan San Fulgen’. Karena insiden penyerangan tersebut, seluruh bangunan di desa itu telah terbakar dan seluruh orang-orang di desa itu pun telah tewas. Lalu, akibat insiden penyerangan di desa Aston, Yang Mulia Ratu pun ngumumkan ’status darurat keamanan’ untuk kerajaan San Fulgen.
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)