Ronan hanya ngangguk. Ia setuju dengan apa yang dikatakan oleh William. mbiarkannya berkeliaran di dalam istana hanyalah ide Pendeta Louise agar serigala itu berhenti mbenturkan kepalanya di jeruji besi dan yang dikhawatirkan Pendeta Louise adalah jika luka yang dibuat serigala itu akan berpengaruh pada kondisi manusia Ronan sendiri. mang saat diberikan tempat luas untuk serigala itu berhenti lukai dirinya sendiri.
Namun sekarang Ronan tak bisa ngambil resiko untuk berkeliaran lagi di dalam istana. Di awal kunjungan Arielle, serigala itu hampir lukai Arielle maka dari itu Ronan mutuskan untuk kembali ngurung serigala malam bulan purnama dengan cara lama seperti para pendahulunya. Yakni dengan nguncinya di kerangkeng besi tebal yang tersedia di ruang bawah tanah katedral.
Kael tiba dengan mbawa banyak selimut untuk dirinya, William dan Lazarus kenakan selama njaga Ronan. Pendeta Jill juga tiba untuk mbantu Ronan netralkan suhu tubuhnya setiap kali dibutuhkan.
"Dimana Lazarus?" tanya William kepada Kael karena hanya pria itu yang belum tiba.
"Mungkin dia masih marah padaku," balasnya sambil ngambil duduk di dekat pintu kerangkeng yang terkunci rapat.
"Apa yang telah kau lakukan?"
"Aku larangnya bertemu Aie."
"Huh? Kenapa?"
"Aie tidak ingin bertemu dengan Lazarus. Dia bilang jika Lazarus muncul di depan wajahnya ia akan nolak tawaran dari Yang Mulia. Sebagai seorang kakak tentu aku lebih ntingkan kepentingan adikku karena Aie sangat mbutuhkan kesempatan ini untuk nghindari perjodohan yang sudah disiapkan ayah kami untuknya. Aku tidak ingin anak itu kabur lagi."
William tertawa kecil. Ronan ngusap wajahnya maksakan dirinya untuk kembali segar.
"Kau tidak ingin wariskan titel ayahmu?" tanya Ronan dari balik jeruji besi.
William dan Kael noleh bersamaan. "Aku tidak pandai dalam ngurus berkas-berkas. lihat ayahku, aku sudah tahu reka miliki pekerjaan yang sama beratnya dengan dirimu. Aku lebih suka ngasah pedangku," jawab Kael.
"Selain itu karena kau lebih suka istana kan?" tanya William yang dijawab oleh Kael dengan anggukkan kepala.
"Karena di istana aku bisa lakukan apa pun yang aku inginkan. Di kediamanku, kedua orang tuaku selalu ncoba njodohkan aku dengan banyak wanita tetapi tak satu pun dari reka ingin lanjutkan perjodohan setelah lihatku. Jadi aku mutuskan untuk tidak lagi berurusan dengan reka."
Ronan tersenyum ndengarkan jawaban Kael. Kael miliki tubuh yang lebih besar darinya. Wajah pria itu jauh lebih garang. Ronan miliki wajah tenang sekaligus tajam sedangkan Kael adalah definisi wajah yang ngintimidasi tanpa pria itu berusaha. Kael miliki luka di wajahnya ski pun tidak sebesar dirinya. Luka itu didapatkannya saat ia nemani Ronan masuk ke dalam sarang anga. Anak kecil selalu nangis saat lihatnya.
Namun dari fitur yang ada di luar tersebut, Ronan tahu bahwa Kael miliki hati terlembut di antara reka berempat. Kael adalah satu-satunya orang yang miliki adik perempuan di antara reka berempat. Sebenarnya William juga punya tetapi berhubung keluarga William telah milih ninggalkan Utara, pria itu telah beranggapan bahwa ia tidak lagi miliki keluarga.
Selain itu Kael adalah satu-satunya yang masih miliki dua orang tua lengkap dan terbilang harmonis. Kedua orang tua Ronan telah tiada, William tak tahu kabar terbaru orang tuanya setelah ninggalkan utara sedangkan Lazarus hanya miliki seorang ayah karena ibunya telah lama ninggal sejak reka kecil dan ayahnya telah nikah lagi.
Tumbuh di keluarga yang miliki segalanya mbuat Kael lebih banyak ngerti hubungan antara manusia bernama keluarga ketimbang tiga temannya yang lain dan itu mbuatnya lebih lembut di hati ketimbang teman-temannya.
"Aku benar-benar penasaran dengan perubahan Aie," ujar Ronan mbuat William tersenyum.
"Saat kau lihatnya nanti, ka tak akan percaya jika gadis itu adalah Aie. Dia benar-benar berubah total," jawab William.
"Seperti apa? Apakah dia semakin besar seperti yang dikatakan Lazarus?"
Di balik senyumnya WIlliam sedikit sedih. Rasanya yang di dalam kurungan itu bukanlah Ronan. Pria itu pasti rasa sangat kesepian sehingga untuk pertama kalinya ia mulai sebuah percakapan. Kale miliki firasat yang sama seperti William. Ia juga bisa rasakan kesepian yang pria tu pancarkan.
Bulan lalu, Arielle tak ada di istana dan dirinya dalam kondisi sangat sehat maka dari itu pria itu bersikap dingin seperti biasanya tetapi sekarang ia sedang sakit dan mbutuhkan kehadiran sang putri. Baik William dan Kael nyaksikan sendiri bagaimana manjana pria itu saat sedang sakit dan kini keduanya harus terpisahkan oleh keadaan.
"Well, kau tidak perlu percaya pada Lazarus akan hal itu. Aie telah njadi seekor kupu-kupu sekarang."
"Kau berlebihan William," sahut Kael yang rasa aneh adiknya dipuji oleh temannya.
"Aku berkata juju Kael, saat aku tak sengaja bertemu dengannya kau sangat terkejut saat seorang wanita cantik ndekat ke arahku dan ngatakan bahwa dia Aie. Tapi aku setuju denganmu tentang tidak mpertemukan Aie dengan Lazarus."
Ronan sedang berusaha mbayangkan Aie, anak kecil bulat dengan banyak freckles di wajahnya berubah njadi cantik seperti yang dikatakan oleh William. Ia tidak bisa mbayangkannya karena baginya yang cantik saat ini adalah Arielle.
"Aku rindukannya," gumamnya pelan. ski pun begitu William dan Kael masih sangat bisa ndengarnya.
"Kau akan bertemu lagi dengannya besok. Tak perlu berlebihan seperti itu. Jangan mbuatku rasa bersalah karena misahkan kalian berdua," sahut William mbuat Ronan tersenyum.
"Apa yang kau maksud? Aku bilang aku rindukan celotehan Lazarus," jawab Ronan sambil tertawa di balik jeruji besi tersebut.
PRANK!!!
Ronan, William, Kael dan Pendeta Jill yang sedari tadi diam di ujung ruangan noleh terkejut ke arah pintu masuk.
Di sana berdiri Lazarus dengan bibir bergetar. "Ronna, Kau rindukanku? Apakah sebentar lagi akan tiba hari kiamat? Aku bahkan belum nikah," kata Lazarus dengan suara bergetar.
Ronan ngumpat pelan. Wajahnya seketika ngeras lihat Lazarus yang berdiri di depan pintu dengan wajah sedihnya.
"Aku akan tidur. Bangunkan aku waktu makan siang," ujar pria itu yang kemudian ndekat pada tembok dan milih munggungi orang-orang di belakangnya.
William noleh ke arah Ronan yang berbaring dengan selimut tebal di atas kain tebal lainnya. Ia terkekeh pelan. Well, itu baru Ronan, temannya yang miliki sikap dingin.
"Apa yang sedang kalian bicarakan sampai Ronan bilang ia rindukanku? Aku sangat terharu dan aku rasa aku akan sangat bahagia jika kau mati hari ini juga."
Terdengar erangan Ronan yang rasa tidak suka dengan sikap berlebihan Lazarus. William bergeser untuk mberikan tempat lazarus untuk bergabung duduk bersama reka. Pria itu mungut kembali nampan yang berisikan beberapa kudapan yang khusus ia bawa untuk dirinya sendiri.
"Serius, aku sekarang sangat penasaran karena sangat jarang manusia satu itu bilang bahwa dia rindukanku. Selama ini aku selalu dihujat dan dikutuknya, jad aku ingin ngingat montum ini baik-baik," kata Lazarus mbuat Wiliam tertawa terbahak-bahak.
"Kau hanya salah dengar. Jangan terlalu percaya diri dulu. Jika Ronan rindukan seseorang yang jelas orang itu bukan kita bertiga. Tolong simpan itu baik-baik," jawab William mbuat Lazarus rengut.
"Tapi aku dengar sendiri dia nyebutkan namaku.JIka bukan tentang aku lalu apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Lazarus yang tidak ingin ketinggalan bahan pembicaraan.
"Kau hanya berhalusinasi. Kami sedang mbicarakan Aie."
"Aie?"Lazarus pun noleh ke arah Kael dan natapnya tajam. "Kael aku masih nyimpan kekesalanku karena kau, aku tidak bisa berjumpa dengan Aie kemarin," sambung Lazarus.
"Sudah aku bilang berkali-kali, Aie yang tidak ingin bertemu denganmu," jawab Kael dengan tenang ncoba bersabar dengan sikap Lazarus.
"Omong kosong, mana mungkin Aie tidak ingin bertemu dengan kakaknya sendiri? Aie sudah nganggapku seperti seorang kakak."
William ngernyit akan kepercayaan diri Lazarus yang setinggi langit. Begitu juga dengan Ronan yang nggeleng tak tahan dengan ocehan Lazarus. Ia sangat nyesali kata-katanya yang sebelumnya. Kini pikirannya kembali kepada Arielle. Sambil natap tembok kosong di depannya pria itu kembali nggumamkan hal yang sama.
"Aku rindukanmu."
Namun kali ini tidak ada yang ndengarnya karena orang-orang di belakangnya sedang sibuk ndengarkan celotehan Lazarus.
***
Terdapat banyak pepohonan tinggi yang ngeliling. Daun hijau nan lebat saling bersentuhan saat diterpa angin malam. Arielle rasa dejavu. Ia lihat sekelilingnya dengan seksama. Sepertinya ia sudah pernah berada di tempat ini sebelumnya. Ia ndongak untuk lihat bulan purnama yang terasa begitu dekat dengan dirinya.
Arielle langkah naiki sebuah akar besar pepohonan dan tiba di sebuah lahan hijau penuh bunga. Matanya ngerjap lihat seekor serigala besar tidur di atas bunga berwarna warni tersebut.
"Ronan?" tanya Arielle tak bersuara.
Gadis itu berjalan ndekat untuk mastikannya sekali lagi. Dan kini dirinya sudah sangatlah dekat. Serigala itu sangat mirip dengan Ronan tetapi ia bukan Ronan. Serigala itu tidak miliki bekas luka di wajahnya. Entah kenapa Arielle ingin ngulurkan tangannya. mbangunkan serigala itu untuk mbuka matanya.
"Cecil?" tanya serigala itu dengan cara yang sama seperti Arielle dan Ronan sedang berkomunikasi. Suara itu nggema di dalam kepala Arielle.
Cecil? Nama yang tidak asing bagi Arielle, tapi di mana ia ndengarnya? Arielle ingin bertanya tetapi ia tidak bisa bersuara.
Mata serigala itu terbuka dan Arielle bisa lihat netra rah yang sama seperti yang dimiliki oleh Ronan.
"Kau bukan Cecil? Kau miliki aroma yang sama seperti Cecil," ujarnya.
"Arielle. Namaku Arielle," jawab Arielle yang akhirnya bisa nemukan suaranya kembali.
"Hm ....." Serigala itu kemudian berdiri di atas keempat kakinya dan ngelilingi ARielle seakan-akan sedang mindai Arielle. Ia juga ngendus Arielle beberapa kali sebelum kembali duduk di atas tanah. Serigala itu sangat besar dan mungkin lebih besar dari pada milik Ronan. Tingginya saat duduk saja lebihi tinggi Arielle yang sedang berdiri.
"Kau sendiri siapa? Kau terlihat sama seperti seseorang yang aku kenal," ujar Arielle.
"Siapa aku? Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Siapa dirimu, ngapa kau bisa masuki tempat suci ini dan ngapa kau miliki aroma yang sama seperti Cecil."
Arielle miringkan kepalanya. "Aku Arielle," jawabnya lagi. "Aku ... seorang putri dari Nieverdell dan sedang tinggal di Northendell. Aku akan nikah dengan seorang pria dari Northendell."
"Nieverdell? Northendell? Aku tidak pernah ndengar nama itu."
"Eh, benarkah? Tapi Nieverdell dan Northendell adalah kerajaan besar. Seperti ... uhm ..." Arielle tidak bisa nemukan kalimat yang tepat untuk nggambarkan sebesar apa kerajaan Utara dan Selatan. "Seperti sangat-sangat besar sekali," awab Arielle seadanya sambil rentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
"Terserahlah, lalu ngapa kau bisa sampai di sini? Bahkan penjaga tempat ini saja tidak bisa lewati barier yang sudah kubuat. Hanya aku dan Cecil yang bisa nempati tanah suci ini."
Arielle juga bingung. Ia lihat sekelilingnya sekali lagi. Ia sendiri tidak ingat bagaimana dirinya bisa sampai di sini. Gadis itu gangi dagunya untuk berpikir keras. Semakin keras ia ncoba ngingat apa yang terjadi, semakin jauh jawaban yang dicarinya. Ia tidak ingat apa pun selain siapa dirinya dan tentang Ronan ....
"Maaf, tapi aku tidak ingat." jawab Arielle dengan jujur.
Serigala itu kemudian nundukkan kepalanya dan kembali jamkan matanya untuk tidur.
"Kau mbuang-buang waktuku. Pergilah dan tinggalkan tanah suci ini. Ini bukan tempatmu berada. Aku bisa rasakan jika ragamu sedang tidak di sini dan kita berada di waktu yang berbeda. Akan berbahaya jika kau berlama-lama di sini."
"Eh? Tapi aku tidak tahu harus kembali lewat mana."
"Kembalilah lalui jalur yang sama dengan jalur yang kau gunakan untuk tiba di sini."
Arielle noleh ke arah akar tinggi yang ia lalui tadi. Gadis itu ngangguk kemudian berdiri ninggalkan serigala hitam besar itu. Namun sebelum Arielle benar-benar ninggalkan tempat ia berbalik sebenar untuk nanyakan beberapa hal.
"Permisi, Tuan Serigala. Sebelumnya, siapakah dirimu yang sesungguhnya? Kau sangat mirip dengan seseorang yang aku kenal lalu siapa Cecil yang selalu kau sebut tadi?"
Serigala itu mbuka matanya sekilas tanpa ngangkat wajahnya. Ia mberikan Arielle tatapan samping terlihat tidak tertarik.
"Aku adalah Dewa penjaga gunung ini. Dan Cecil adalah mateku."
Mate? Arielle ingin kembali bertanya tetapi serigala itu berbalik sekana munggungi Arielle tidak ingin lagi berbicara dengannya. Gadis itu milih kembali ke tempat semula ia tiba. Namun jantungnya berdebar cepat lihat seorang wanita anggun dengan gaun putih serta rambut putih berkilau panjang njuntai hingga ke tanah.
Saat wanita itu lewatinya, ia mberikan senyum yang sangat indah. "Senang bisa bertemu denganmu Arielle," sapanya dengan suara setenang permukaan air. Wanita itu kemudian berlalu ngeluarkan serulingnya dan mulai mainkan alat musiknya.
Wanita itu ndekati serigala tadi kemudian duduk di dekat kepalanya. Serigala itu ngangkat kepalanya kemudian letakkannya di atas pangkuan wanita tersebut. Semilir angin terasa begitu nenangkan. Alunan musik dari seruling wanita itu nyatu dengan suara alam sehingga mbentuk lodi yang sangat indah bagi Arielle.
Matanya mbelalak kala lihat serigala itu berubah njadi sosok seorang pria. Arielle tidak bisa lihat sosok pria itu karena ia sedang munggunginya. Arielle hanya tahu jika pria itu miliki rambut hitam sebahu dengan gambar matahari berwarna rah di punggungnya.
Seorang dewa ....
Seseorang nyentuh pundaknya dan Arielle pun noleh lihat pria itu dengan perawakan yang sama seperti di ingatannya yang pernah nolongnya saat ia kecil.
"Senang bertemu lagi denganmu lagi Arielle. Aku sudah bilang agar kau tidak boleh nginjakkan kaki di tanah suci itu," ujarnya ramah mbuat Arielle bingung.
"Ah, sepertinya kekuatanmu telah terbuka." Pria itu nyentuh sisi wajah Arielle dan natapnya iba. "Dan dilakukan secara paksa."
Pria tua itu kemudian ngulurkan tangannya minta Arielle untuk ngikutinya. "Mari kita berbincang di tempat yang sama seperti dulu," ajaknya dan Arielle hanya ngangguk nuruti ajakan pria tua itu.
Keduanya lalui sebuah jalanan setapak. Tempat itu begitu subur dan hijau. Arielle rasa dejavu jika dirinya sedang tidak berada di Northendell. Ia bisa ndengar beberapa suara jangkrik di kejauhan. Dan malam itu begitu sunyi sehingga Arielle juga dapat ndengar suara langkah keduanya.
Arielle noleh ke belakang untuk lihat pasangan tadi keduanya sudah tak terlihat. Kemudian tibalah Arielle dengan pria tua itu di sebuah danau yang lebih luas dari danau di Nieverdell yang sering Arielle kunjungi.
"Tuan, maaf jika lancang. Tapi sedang dimanakah kita saat ini?" tanya Arielle yang rasa dirinya pernah ngunjungi tempat ini tetapi ia tidak bisa ngingat kapan tepatnya ia berkunjung karena seingat Arielle di Northendell tidak ada tempat yang tidak diselimuti oleh salju.
"Ah, hohoho ... aku hampir lupa jika aku ngunci ingatanmu tentang kunjungan pertamamu saat itu."
Pria bernama Otis itu nyentuh kepala Arielle dan seketika semua mori Arielle datang begitu cepat layaknya sambaran kilat. Arelle sampai sulit ncerna semuanya dan butuh waktu lama bagi Arielle untuk mahami semua yang terjadi.
Ini adalah Gunung Birwick. Arielle pernah bermimpi tentang tempat ini saat dirinya tak sadarkan diri cukup lama setelah terjebak di badai salju. Arielle tak nyangka bahwa dirinya akan bermimpi ke tempat ini lagi.
"Apakah sekarang kau sudah ingat?" tanya Otis.
Arielle terengah-engah ncoba nenangkan dirinya oleh banyak ingatan yang muncul dengan tiba-tiba. Gadis itu ngangguk pelan.
"Aku sengaja ngunci ingatanmu agar kau tidak panik saat bangun. Dan sekarang ... saat kekuatanmu terbuka, aku harap kau bisa miliki pemikiran yang lebih terbuka."
"Apakah ... ini benar-benar Gunung Birwick?" tanya Arielle.
Otis ngangguk. "Kita berada di waktu yang sama. Gunung Birwick adalah tempat suci, salah satu pondasi dari Benua Forsham. Maka dari itu, tidak sepantasnya manusia nginjakkan kakinya di tempat ini ... namun ratusan lalu keserakahan manusia langgar peraturan itu maka dari itu Gunung Birwick mutuskan untuk nyembunyikan tempat ini dengan ikut liputinya dengan salju."
"Bagi orang awam, gunung Birwick hanyalah gunung penuh misteri. Gelap dan tak tersentuh dengan tumpukan salju yang jauh lebih tebal dari tempat yang lain. Dan itulah cara kami lindungi tempat ini agar tetap njadi tempat suci."
"Tuan Otis, apakah kau nyata?’
Pria tua itu kembali tertawa dan ngangguk. "Tentu saja aku nyata. Aku hidup selayaknya dirimu. Aku masih butuh makan dan minum agar ingin tetap hidup," jawabnya.
Arielle ingat tentang apa yang pria itu bicarakan saat kunjungan pertamanya. Pria itu bilang jika keduanya adalah sesama keturunan Dewi Bulan. Maka dari itu apa yang dikatakan Pendetal Elis, pendeta Louise atau Pendeta Khan sekali pun benar jika dirinya adalah salah satu keturunan dari Dewi bulan. Arielle sudah ngkonfirmasinya sendiri sekarang.
"Kau pasti sangat bingung saat ini," ujar Otis.
Arielle ngangguk jujur.
"Hm ... kita miliki banyak waktu. Kau boleh bertanya apa pun untuk mulainya," ujar Otis.
Arielle berpikir sejenak kemudian njentikkan jarinya. "Kau bilang kau hidup selayaknya orang pada umumnya, kan? Apakah itu artinya kau juga butuh tidur?"
Otis tertawa kecil tak nyangka Arielle akan bertanya dari sana. Namun ia tetap akan njawabnya.
"Aku sama sepertimu. Aku juga miliki tempat tinggal. Hanya saja kau belum boleh berkunjung. Kau hanya bisa berkunjung di area sui ini. Jika kau ingin ngunjungi tempatku, kau bisa datang dengan ragamu."
"Benarkah? Apakah aku boleh berkunjung?"
Otis ngernyitkan keningnya sebentar. "Tentu saja kau boleh karena kau salah satu bagian dari tempat ini. Jika orang lain pasti akan mati mbeku sebelum ncapai gerbangnya. TApi ada baiknya jika kau nunggu undangan dariku."
Arielle tersenyum lebar. "Aku akan sangat nantinya, Tuan Otis. Anda tidak tahu sebesar apa rasa penasaranku tentang Gunung Birwick."
Otis tertawa lihat antusias Arielle yang mbara. Pria itu natap pantulan cahaya keduanya di atas permukaan air.
"Tuan Otis, siapa sebenarnya dua orang yang aku lihat tadi?"
"Keduanya adalah entitas penjaga Gunung Birwick yang sesungguhnya. Ia adalah keturunan pertama Dewi Bulan, Putri Cecil of Birwick dan Dewa Amadea, penguasa pertama Gunung Birwick. Keduanya adalah pasangan mate yang telah dijodohkan oleh para dewa jauh sebelum reka dilahirkan. Namun keserakahan manusia misahkan keduanya dan tempat itu adalah tempat jiwa reka bertemu setiap bulan purnama."
"Dewa Amadea?"
"Apakah kau lihat tanda matahari di punggungnya saat ia berubah njadi manusia tadi?"
Arielle ngangguk. "Itu adalah tanda bahwa dia adalah salah satu dewa keturunan dewa matahari."
Otis bercerita bagaimana dewa miliki peraturannya masing-masing. Dewa Matahari adalah dewa tertinggi yang ngatur seluruh apa yang terjadi permukaan bumi. Dewi Bulan adalah adik dari Dewa Matahari yang bertugas nghidupkan seluruh makhluk hidup.
Dewa matahari nciptakan dewa-dewa lainnya yang bertugas untuk njaga segala sesuatu di permukaan bumi dan Dewa Amadea adalah dewa yang njaga Gunung Birwick. Beberapa waktu berlalu, dewi bulan kemudian ingin nciptakan satu sosok untuk nemani Dewa Amadea namun kekuatannya tak sebesar yang dimiliki oleh Dewa Matahari maka dari itu, ia hanya nitipkan sebagian dirinya pada salah satu bayi yang terlahir. Dan Dewi Bulan milih Putri Cecillia dari kerajaan Gunung Birwick untuk njadi manusia pertama yang dikaruniainya oleh kekuatan.
"Dan yang kau temui tadi adalah jiwa keduanya karena raga keduanya telah lama nghilang."
"Seorang dewa bisa ninggal?" tanya Arielle.
"Para dewa dan dewi manglah immortal tetapi reka miliki pilihan untuk mati atau tidak. Tidak ada yang bisa lukai reka selain keinginan reka sendiri dan Dewa Amadea milih untuk ngakhiri hidupnya sendiri."
"Tuan Otis, apakah Dewa Amadea juga tidak bisa ngontrol siis serigalanya setiap malam bulan purnama?"
Arielle teringat Ronan. Astaga, Ronan! Arielle baru teringat tentang pria itu! Ronan sedang sakit sekarang dan sebentar lagi waktunya ia akan berubah.
"Apakah kau sedang mbicarakan kutukan raja Northendell?"
Arielle ndongak. "Apakah kau ngetahui sesuatu tantang kutukan itu, Tuan Otis."
"Hm ... pertama-tama aku akan njawab pertanyaanmu sebelumnya. Dewa Amadea berawal dari sosok seekor serigala. Ia bisa ngubah dirinya kapan pun dirinya mau dan bulan purnama dirinya sama sekali tidak kehilangan kendali seperti yang dirasakan oleh para keturunan raja Northendell. Dan apa yang dialami oleh keturunan raja utara adalah ... itu sebuah kutukan yang diberikan oleh Dewa Amadea sendiri kepada raja pertama Northendell."
Dewa Amadea sendiri? Arielle ingat jelas tentang cerita Pendeta Louise tentang seorang putri kerajaan Birwick yang ngutuk keturunan raka di akhir hayatnya sebelum ia mbakar dirinya sendiri bersama jantung Gunung Briwick.
Dan saat Arielle nanyakannya Otis hanya nggeleng. "Itu adalah cerita untuk lain waktu. Yang perlu kau tahu adalah, Dewa Amadea lakukan hal yang sama dengan apa yang bibinya lakukan, mberikan sebagian dirinya pada tubuh bayi manusia. Tetapi keduanya miliki tujuan yang berbeda. Dewi bulan nganugerahi Putri Cecil untuk ndampingi Dewa Amadea sedangkan Dewa Amadea lakukannya agar anak keturunan raja saling mbunuh satu sama lain."
Dan apa yang diinginkan oleh Dewa Amadea terjadi. Terkadang ada keturunan raja bermata rah yang mbunuh saudaranya sendiri saat berubah wujud njadi serigala, ada yang mbunuh penduduk setempat, ada yang dibunuh oleh prajuritnya sendiri dan juga ada yang mbantai istri dan juga anaknya ... seperti kasus yang terjadi pada Ronan.
Arielle nutup mulutnya tak percaya bahwa apa yang terjadi pada Ronan adalah hasil dari sebuah kebencian di masa lalu.
"Lalu apakah kutukan kebencian itu akan terus terjadi?"
"Sampai garis keturunan dari raja pertama habis," jawabnya mbuat Arielle terdiam.
Reviews
All reviews (0)