Font Size
15px

Randika langsung berteriak panik, "Safira kau kenapa!?"

Namun, telepon itu segera mati tanpa ada jawaban apa-apa.

Apa yang telah terjadi?

Randika langsung njadi panik. Safira pasti dalam keadaan genting, tapi dia tidak tahu apa-apa tentang situasi adiknya itu. Bagaimana dia bisa mbantu kalau dirinya tidak punya petunjuk apa pun?

Randika langsung terselubungi dengan aura mbunuh. Bajingan mana yang berani lukai keluarganya itu?

Dia lalu nghela napas dan berusaha ngontrol diri. Sekarang bukannya waktu untuk bertindak gegabah, sekarang adalah waktunya ngumpulkan informasi dan ncari keberadaan Safira.

Di saat ini, handphonenya kembali berdering dan ternyata itu pesan singkat yang berisikan sebuah alamat.

lihat pesan singkat itu, Randika nghela napas lega. Bisa ngirimkan pesan nandakan bahwa Safira belum berada di situasi berbahaya dan masih ada waktu untuk dirinya bertindak.

Randika tidak ragu loncat dari jendela kamarnya. Dia dengan cepat nyatu dengan bayangan dan lesat bagai panah.

Di area industri kota Cendrawasih, terdapat area industri kayu terkenal di seluruh Indonesia. Namun, setelah area itu ngalami kebakaran, tempat itu telah ditelantarkan dan belum ada tanda-tanda pembangunan kembali.

Di salah satu gedung, Safira berbaring di tanah dengan baju yang kotor sedangkan baju Elva terlihat compang-camping. Darah netes dari sudut mulut Elva dan mbuat bajunya semakin kotor.

Di hadapan reka, terlihat sosok laki-laki berbaju hitam yang ngenakan kacamata hitam. reka lihat kedua perempuan itu dengan tatapan acuh tak acuh.

"Ternyata segini aja kekuatan Arwah Garuda yang terkenal itu?" Nada suara orang ini penuh dengan ejekan dan caranya berbicara sedikit aneh. Jelas orang ini bukan orang Indonesia.

Orang ini bernama Brian, dia adalah buronan internasional. Arwah Garuda ndapatkan perintah untuk ngejarnya ketika ngetahui bahwa Brian bersembunyi di Indonesia. Namun, reka tidak nyangka bahwa orang ini ternyata pintar dan kuat. Dia berhasil mancing Safira dan Elva ke gedung terbengkalai ini dan nangkap reka berdua.

Saat Elva bertarung dengan tangan kosong dengan Brian, ternyata dia sama sekali tidak bisa nyentuh pria itu sedikitpun. Dia terus-terusan dipermainkan hingga kelelahan dan dihajar hingga hampir tidak sadarkan diri.

"skipun kalian lemah, tapi pelacakan kalian boleh juga." Kata pria itu dengan terbata-bata. "Tapi aku bingung, kenapa anjing-anjing seperti kalian ingin nangkapku?"

"mangnya perlu alasan untuk nangkap buronan?" Elva ndengus sambil berusaha berdiri lagi. "Sudah rupakan tugas kami untuk nangkap penjahat sepertimu."

"Itu percuma." Pria itu nggelengkan kepalanya dan berkata kembali dengan nada dingin. "Yang perlu kau tahu, semua orang yang ngejarku sebelumnya sudah mati."

"Lagipula, aku sama sekali tidak takut dengan polisi. Bahkan aku sangat nyukai kalian khususnya orang yang secantik dirimu." Kata-kata Brian dipenuhi dengan kengerian tersendiri. "Aku belum pernah ncicipi perempuan negara ini."

"Cuih." Elva ludah. "Semua buronan yang aku hadapi telah kubunuh dan sebentar lagi kau akan bergabung dengan reka."

"Hahaha, Oh betapa nariknya dirimu nona. Kau benar-benar energik dan aku tidak sabar ndengar desahanmu itu." Mata Brian dipenuhi dengan aura jahat. "Aku tidak nyangka bahwa Arwah Garuda akan mberikan diriku dua gadis cantik untuk aku cicipi."

Safira mperhatikan kedua orang ini dari samping, dia mulai khawatir. Dia tidak nyangka bahwa Brian akan sekuat ini.

"Kak Randika cepatlah datang." Safira terus berdoa dalam hatinya.

"Jangan khawatir, aku akan motong alat kelaminmu itu!" Elva mulai jengkel, aura mbunuhnya segera nyelubunginya.

"Aku rasa kau tidak ingin lakukannya, kalau kau motongnya bagaimana mungkin aku dapat muaskanmu dan temanmu itu?" Brian ngetahui bahwa kunci kenangannya adalah mbunuh ataupun mbuat pingsan Elva. Setelah itu, dia bisa nikmati dua piala itu dengan leluasa.

Elva tidak ndengarkan Brian sama sekali, dia berfokus ngumpulkan tenaga dalamnya.

"Kalau kata orang Indonesia itu kalian seperti 'bagai ntimun dengan durian'. Tidak peduli kalian mau berontak berapa kalipun hasilnya akan sama." Kata Brian.

Namun, Elva tidak mpedulikannya dan sudah nerjang maju.

Kebulatan tekad Elva sudah bulat. skipun sudah dikalahkan dua kali oleh Brian, itu tidak lemahkan semangat tarungnya. Malahan, hal itu mbuat dirinya semakin mbara-bara.

Sebuah pukulan sudah dia layangkan ke arah wajah Brian. Ketika dia berusaha mblokirnya, Elva narik tinjunya dan layangkan tendangan ke dadanya. Brian bereaksi dengan cepat dan nangkap kaki Elva. Di saat yang sama, dia lancarkan serangan sikut ke paha Elva.

rasa sudah terlambat untuk mblokirnya, Elva nggunakan kakinya yang tertangkap itu sebagai tumpuan dan nendang belakang kepala Brian. Namun, sebelum keduanya lancarkan serangan balik itu, Brian lepas dan ndorong kaki Elva dan itu mbuat Elva terjatuh.

Brian masih ingin bermain-main dengan mangsanya itu, dia tidak ingin mbuat pincang gadis manis ini.

Ketika dia terkapar di tanah, wajah Elva dipenuhi api balas dendam dan berusaha njegal Brian. Namun, Brian sepertinya sudah ngetahui serangan itu dan nghindarinya dengan mudah. Dia lalu lompat dan berusaha nginjak Elva yang masih terkapar!

Elva langsung berguling-guling. Tetapi, Brian berhasil nginjak dada Elva! Seteguk darah langsung keluar dari mulut Elva, dia rasa dirinya seakan-akan ditekan oleh sebuah gunung.

"Kan dari awal sudah kubilang kalau kau itu bukan tandinganku. Sayang aku harus mbunuhmu sebelum ncicipi dadamu indah ini." Setelah itu, Brian segera lancarkan pukulan matikan ke wajah Elva.

Safira langsung berteriak. "Elva bertahanlah! Kak Randika sudah dekat!"

"Mau berapapun orang yang dikirim Arwah Garuda, semua akan kubunuh." Brian nghentikan pukulannya ketika ndengar teriakan Safira.

Dan bantuanmu mungkin datang dengan percuma, karena setelah mbunuh perempuan ini kau akan kuperkosa dan kubunuh! Hahahaha!"

Ketika Brian tertawa keras, sebuah suara terdengar dari atas. "Sayangnya tidak seperti itu."

Ketika ketiga orang ini ndengar suara itu, semuanya terkejut. Safira berurai air mata, Elva nghembus napas lega dan Brian natap orang itu dengan kebingungan. Bagaimana mungkin orang bisa nemukan dirinya semudah itu?

Ketika reka masih terpukau dengan kehadiran Randika, detik berikutnya dia telah nghilang.

Tanpa disadari dia telah mbawa Elva ke samping Safira dan ngecek keadaan reka.

Brian benar-benar terkejut, dia tidak dapat ngikuti kecepatan Randika sama sekali. Dia langsung njadi waspada.

"Siapa kamu?" Tanya Brian.

"Kau tidak perlu tahu namaku, kau tidak layak ndengarnya." Kata Randika dengan santai.

"Kata-katamu sombong juga" Brian jelas telah terpancing emosinya. "Mari kita buktikan."

Randika lalu tersenyum. "Jangan nahan kekuatanmu atau kau akan nyesal."

Tanpa nunggu Randika selesai berbicara, Brian sudah nghilang njadi bayangan. Randika juga segera nyusulnya.

Keduanya nghilang saking cepatnya!

Randika ngerutkan dahinya, sosok Brian di depannya tiba-tiba nghilang. Lalu pukulan matikan dilayangkan Brian ke arah belakang kepala Randika.

Ketika berada di kecepatan tinggi seperti ini, satu pukulan saja bisa mbuatmu pingsan.

Randika langsung berputar badan dan berkata pada Brian. "Lambat!"

Brian terkejut ketika dirinya terpental karena tendangan Randika. Brian mang sudah tahu kalau Randika mang cepat tetapi dia tidak nyangka ketika dia sudah ngeluarkan kekuatan penuhnya, dia masih tidak bisa ngimbangi Randika.

"Penuh celah!" Ketika Brian berusaha berdiri kembali, Randika sudah berada di depannya dan lancarkan beberapa pukulan.

Brian dengan sigap langsung mblokirnya tetapi 2 pukulan tidak bisa dia blokir dengan baik. Dengan bantuan tenaga dalamnya, Brian dengan cepat terpental kembali.

Brian berguling di udara hingga kacamata hitamnya terjatuh. Wajahnya dipenuhi dengan keterkejutan. Bagaimana mungkin lawannya ini begitu cepat, jauh lebih cepat dari dirinya.

Brian nghela napas dalam-dalam, mukanya terlihat serius. Dia berdiri kembali dan ngambil ancang-ancang dan nerjang Randika dengan kecepatan penuh.

Randika hanya berdiri diam dengan tatapan mata yang dingin. Ketika serangan Brian sudah dekat dia hanya ngangkat satu tangannya dengan santai dan nghindar ke samping sedikit dan layangkan pukulannya tepat di wajah Brian!

Satu pukulan itu cukup mbuat Brian terbenam di tanah.

Brian langsung muntahkan seteguk darah sambil nyadari bahwa Randika manfaatkan kecepatan dirinya.

Brian mulai ngeluarkan keringat dingin di dahinya. Siapakah orang ini? Bagaimana mungkin orang ini begitu kuat dan bisa nghajar dirinya dengan mudah?

"Segini doang?" Kata Randika dengan santai.

Seketika itu juga, Brian nggertakan giginya dan berdiri kembali. Dia ngambil beberapa langkah mundur dan kembali ngambil ancang-ancang. Randika hanya berdiri diam dan tidak bergerak sama sekali. Sekarang, Randika hanya mblokir serangan Brian.

Elva lihat pertarungan ini dengan wajah tidak percaya. Kedua orang itu bertarung dengan kecepatan tinggi yang bahkan dirinya tidak bisa lihat dengan jelas. Tetapi, perbedaan kekuatan dari keduanya mulai terlihat.

Tiba-tiba, Randika, yang sedang gang kedua tinju Brian, ngangkat Brian dan lontarkannya dengan mudah.

"Bagaimana mungkin dia begitu kuat?" Ketika dirinya layang di udara, dia sudah mutuskan untuk kabur. Dia manfaatkan montum yang diberikan Randika itu untuk kabur ke arah jendela.

Jendela gedung itu langsung pecah ketika ditendang oleh Brian, sosoknya langsung hilang tanpa jejak.

"Safira, kau baik-baik saja?" Randika langsung nghampiri adiknya itu.

"Kak, jangan biarkan dia kabur!" skipun dirinya sedikit terguncang, Safira masih baik-baik saja. Tugasnya adalah nangkap orang itu jadi dia tidak bisa mbiarkannya kabur setelah lukai Elva sedemikian rupa.

"Jangan khawatir, aku tidak akan mbiarkannya kabur. Tunggulah di sini."

Randika tersenyum dan nghilang dari gedung.

"Percuma." Elva bergumam pada dirinya. Karena dirinya telah hidup lama di dunia kegelapan, dia ngetahui bahwa Brian miliki kemampuan untuk nghilang tanpa jejak. Bahkan jika kau kehilangan dirinya cuma satu detik saja, maka Brian tidak akan bisa terkejar.

Bagaimana mungkin buronan internasional semacam Brian tidak miliki kemampuan ndasar seperti itu.

"Elva kau tidak perlu khawatir. Kak Randika pasti nangkapnya, dia selalu nepati janjinya." Kata Safira sambil tersenyum.

Ketika dia keluar dari jendela, baju serba hitam Brian langsung dia lepas dan pakaiannya sudah njadi orang miskin yang mabuk. Dia tidak lupa mbawa botol bir dan berjalan terseok-seok, biar penyamarannya semakin nyata.

Sekarang dari luar, dia benar-benar seperti orang tengah baya yang kerjanya cuma mabuk-mabukan. Dia sudah nyiapkan jalur kabur bahkan sebelum dia mancing Elva dan Safira ke gedung terlantar tersebut. Lebih baik berjaga-jaga daripada nyesal.

Tetapi, dia tidak bisa nahan diri untuk tidak rasa takut terhadap Randika. "Akan kuingat kejadian malukan ini, tunggu saja akan kubalas perbuatanmu!"

Brian langsung mbaur dengan kerumunan orang dan mastikan bahwa dia tidak bisa dilacak dengan mudah.

Setelah berjalan beberapa saat, Brian berjalan nuju ke sebuah gang sepi. Dia langsung lompati dinding dan berada di atap sebuah bangunan. Saat dia ncapai atap bangunan tersebut, dia sudah ditunggu oleh Randika.

"Ha? Bagaimana mungkin?" Mata Brian terbelalak lihat sosok Randika. "Kau. Bagaimana bisa kau nemukanku!"

Brian benar-benar tidak percaya dengan kejadian ini. Bagaimana bisa pria itu ada di sini? Bagaimana bisa penyamarannya ketahuan secepat itu?

Bahkan Arwah Garuda saja kesusahan lacaknya. Bahkan kalau dia sendiri tidak mberikan petunjuk buat Elva ngejarnya, mungkin Arwah Garuda tidak akan pernah bisa nemukan dirinya.

Tetapi, pria di depannya ini bisa nemukan dirinya dengan mudah. Hal ini masih sulit untuk dia percayai.

Randika hanya tersenyum kecil, "Maksudmu bagaimana bisa aku lihat penyamaranmu atau kenapa aku bisa berada di sini duluan?"

Brian ngambil langkah mundur sambil ngatakan, "Bagaimana bisa kau mbongkar penyamaranku? Kau pertama kalinya yang bisa."

"Yah aku harus mujimu karena penyamaranmu mang bagus." Randika nghampirinya perlahan. "Kalau bukan karena tenaga dalammu yang besar itu, aku mungkin tidak bisa nemukanmu."

Setelah selesai berbicara, sosok Randika sudah berubah njadi asap dan nerjang ke arah Brian. Tangan kanannya berhasil ncengkram pergelangan tangan Brian sedangkan Brian langsung berusaha kabur ketika Randika sudah bergerak.

"Jangan harap kau bisa kabur!" Randika segera narik paksa Brian.

Brian manfaatkan montum dari tarikan Randika itu untuk berguling dan nendang tanah lalu loncat turun gedung. Yang ngejutkannya bahwa dia disambut oleh pukulan Randika di saat dia berada di udara.

Pukulannya ngenai perutnya dan Brian langsung tersungkur di tanah.

Randika langsung nendang Brian dan berdiri di atas punggungnya.

"Sekarang kau tidak bisa kabur." Kata Randika dengan santai.

Brian hanya bisa ringkuk kesakitan. Ketika dia berusaha lepaskan diri, Randika mukulnya tepat di punggungnya.

"Kalau kau bergerak sekali lagi, aku tidak akan sungkan matahkan beberapa tulangmu." Kata Randika.

Ekspresi Brian langsung njadi dingin.

[1] Orang yang lemah tidak berdaya lawan orang yang berkuasa

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 53: Bagai Mentimun Dengan Durian on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Death Notice cover
Trending now

Death Notice

Gluttonous Monk ·Horror

Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoysthebloodshed.He...Readmore Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoystheblo...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.