Setelah selesai riksa gedung kosong ini mau tidak mau Randika kembali dengan tangan kosong.
Namun, dari seluruh informasi yang dia kumpulkan, dia bisa nyimpulkan bahwa organisasi ini bukan organisasi amatir.
ngingat kata-kata kakeknya, Randika nghela napas.
.....
Hari sudah njelang malam ketika dia kembali ke rumah. Hari ini sungguh lelahkan bagi Randika.
Seperti biasa, Inggrid kemungkinan masih belum pulang. Akhir-akhir ini pekerjaan mbuatnya pulang telat.
Tetapi ketika dia mbuka pintu ruang tamu, dia dikejutkan oleh sosok tak terduga yang sedang berdiri diam.
Lho? Kok Inggrid sudah pulang?
Dan kenapa hari ini dia terlihat cantik sekali?
Tubuh Inggrid yang elok itu makai celana jeans pendek yang ketat, nonjolkan paha dan kakinya mulus dan panjang itu. Kalau diperhatikan baik-baik, tali celana dalamnya ncuat sedikit dari balik celana. Bisa dikatakan, sisi nakal seperti itu mbuat Randika makin suka dengannya.
Yang lebih nakjubkan lagi, bagian atasnya dia hanya makai baju kutang putih dengan warna beha yang ncolok. Seakan-akan secara tidak langsung dia minta Randika untuk lepaskan pengaitnya.
mang istri idaman!
Sejak kapan Inggrid njadi berani seperti itu? Hanya ada satu kesimpulan, dia kangen dengan pelukan hangatku dan mutuskan untuk nggodaku!
Terima kasih sayangku!! Suamimu ini peka kok!
Hati Randika sudah tidak sabar, dia tersenyum lebar dan tidak sabar nikmati hidangan lezat ini!
"Sayangku, jika kau nginginkan diriku kau tinggal ngomong saja. Tidak usah makai baju seksi seperti ini tapi aku suka sisi nakalmu ini." Randika langsung luk dari belakang sambil remas bokong indah itu.
Sialan! Empuk sekali pantat ini!
"Kamu kok cepat sekali pulangnya hari ini?" Kata Randika sambil ncium leher Inggrid.
Ketika pantatnya diremas, perempuan ini sudah nekan nomor polisi dan hendak berteriak. Namun, ketika lehernya dicium, dia ketakutan dan lepaskan diri dari pelukan pria itu dan namparnya.
Randika terkejut ketika dia ditampar.
Bukan karena tiba-tiba dia ditampar, tapi orang ini bukan Inggrid!
Bagaimana mungkin orang ini mirip sekali dengan Inggrid? Pikir Randika.
Bagaimana mungkin ada pria di rumah ini? Pikir perempuan itu.
"Siapa kamu!"
"Siapa kamu!"
Pertanyaan ini muncul secara bersamaan.
"Siapa kamu!" Perempuan ini bertanya sekali lagi dengan nada marah. Dia tidak habis pikir, bisa-bisanya dia diraba-raba oleh pria tidak dikenal ini.
"Siapa kamu!" Randika tidak mau njawab karena dia adalah kepala keluarga rumah ini, dia berhak ngetahui siapa yang masuki rumahnya tanpa ijin. Tapi dia sedikit was-was juga, karena dia telah raba perempuan itu.
"Kau sudah lecehkanku!" Perempuan itu segera nutupi dadanya. "Kulaporkan kau ke polisi!"
"Eh apanya! Jelas-jelas kau yang ngundangku untuk rabamu! Kalau kau tidak berpakaian seksi begitu jelas aku tidak akan berbuat seperti itu."
Tatapan mata perempuan itu semakin tajam. Logika macam apa itu? mangnya apa salahnya berpakaian santai?
"Sebentar, sebentar, mangnya siapa kamu? Kamu kok bisa masuk ke rumah ini?" Perempuan ini masih terus waspada, bisa-bisa pria di depannya ini adalah perkosa.
"Lha kamu sendiri siapa? Kamu kok bisa masuk ke rumah ini?" Randika juga waspada, bisa saja perempuan ini pencuri.
skipun Randika rasa tidak ada pencuri secantik dia dengan dada dan pantat yang nggiurkan seperti itu, Randika sti tetap waspada ngingat Jeratan Neraka masih berkeliaran di luar sana.
Tidak ada yang mau njawab dan situasi ini ngalami kebuntuan. Perempuan itu berteriak sekali lagi. "Aku yang tanya duluan jadi kau sti jawab duluan!"
"Aku jawab kalau kau jawab duluan!" Balas Randika. Dia mutuskan untuk pura-pura bodoh, mungkin saja nanti perempuan itu lelah dan ngalah duluan.
"Ini rumahku!" Kata perempuan itu sambil marah-marah.
"Ini juga rumahku!" Kata Randika dengan muka datar, tentu saja rumah ini sudah njadi milikku karena dia suami Inggrid bukan?
"Bohong!" Ekspresi perempuan ini makin marah. "Tidak pernah ada pria yang tinggal di rumah ini."
"Kalau begitu akulah yang pertama!" Ekspresi bangga terpampang jelas di muka Randika. "Akulah kepala rumah tangga di rumah ini!"
Lalu perempuan ini bertanya kepada Randika. "Siapa nama pemilik yang tinggal di sini?"
"Inggrid Elina, mangnya kenapa?"
Perempuan ini segera masang ekspresi penasaran. Dia segera nghampiri Randika dan riksa dirinya.
Ya tuhan besar sekali!
Mata Randika lirik ke buah dada yang indah dari perempuan ini. Karena dia makai baju putih, Randika bisa lihat beha sekaligus bentuk dada itu! Ahhhh betapa kuingin nyentil kedua pucuk indah itu!
Perempuan itu tidak nemukan keanehan pada Randika. Lalu dia bertanya dengan nada bingung. "Kamu siapa?"
"Ha? Tentu saja aku suaminya Inggrid." Kata Randika dengan nada bangga.
"Suami!?" Mulut perempuan itu nganga lebar ketika ndengarnya.
"mangnya apa yang salah dengan itu?" Randika ndengus dingin.
"Hahahaha!" Tiba-tiba perempuan itu tertawa. "Bercandamu lucu juga, kakakku itu belum nikah. Kalau pun nikah, nurutmu adiknya tidak akan tahu hal itu?"
Apakah perlu dia mberitahu bahwa reka berdua hanya nikah selama 3 bulan?
Randika ngurungkan niatnya karena hal seperti ini lebih baik Inggrid yang njelaskan. Tapi dari percakapan reka, Randika tahu bahwa perempuan ini adalah adik Inggrid. Jika dia perhatikan baik-baik, dia mang mirip Inggrid tapi kalau dilihat dari sifatnya dia benar-benar tidak mirip sama sekali.
"Hahaha kita nikah dengan terburu-buru jadi tidak ada persiapan." Randika ngambil sesuatu dari laci kamarnya. "Nih lihat sertifikat nikah kita."
"Hah!! Kalian benar-benar sudah nikah?" Adiknya ini masih tidak percaya.
"Buat apa aku berbohong? Lagipula mana bisa malsukan sertifikat seperti ini?" Randika masih tidak ngerti apakah benar-benar hal ngejutkan kalau dirinya nikah dengan Inggrid?
mang reka belum pernah lakukan hubungan badan, tapi dalam perkara hati bukankah reka sudah saling terbuka?
lihat bahwa tidak aja jejak-jejak kebohongan di mata Randika, Hannah rasa bahwa Randika berkata jujur. Dia lalu bertanya kembali. "Kalau begitu kau adalah kakak iparku?"
"Jelas!" Randika terlihat bangga. Inggrid dikenal sebagai perempuan tercantik di kota ini, jadi sebuah kesenangan tersendiri baginya untuk bisa nikahinya.
"skipun kau kakak iparku, bukan berarti kau boleh raba tubuhku!" Kata Hannah dengan wajah yang rah.
Randika lupakan masalah itu.
"Hei kau yang nggodaku tahu, bisa-bisanya kau makai baju seseksi itu?" Kata Randika. "Lagipula kau mirip sekali dengan istriku kalau dilihat dari belakang, jelas aku salah sangka."
"Ha? Apa salahnya pakai baju santai di rumah dan siapa yang mangnya nggodamu?" Hannah rasa Randika tidak mau ngakui kesalahannya. "Dan aku juga tidak tahu kalau ada pria di rumah ini. Kalau tahu aku pasti tidak akan makai baju seperti ini sehabis mandi!"
"Mandi? Jadi kau mbersihkan diri dulu sebelum mberikannya padaku?" Canda Randika.
"Kau!" Hannah rasa jengkel, bisa-bisanya kakak iparnya sum seperti ini.
Randika jelas bercanda, dia tidak akan mungkin nyentuh adik iparnya. Yang ada hanya masalah kalau dia lakukannya.
Jadi dia tidak bisa ngakui perbuatannya sebelumnya, dia harus mbuat Hannah rasa bersalah!
Hannah nghela napas, dia rasa lelah berdebat dengan orang ini. "Yang penting, kau sudah raba pantatku dan itu adalah fakta."
"Ha? Kalau kau tidak ngundangku untuk lakukannya jelas aku tidak akan bertindak seperti itu. Lagipula kenapa kok kamu tidak langsung teriak saja dari detik aku lukmu?"
"Ah?" Hannah mulai terpojok.
"Maksudku kalau kau ingin nolakku sebelumnya, bukankah itu lebih logis daripada berdiri diam?" Bela Randika.
lihat Randika yang mulai nang, Hannah ngeluarkan jurus yang dipelajarinya untuk naklukkan pria manapun. Dia mbusungkan dadanya dan nempel erat Randika dan ndongak ke atas. "Bukankah kau lakukannya karena aku cantik?"
Dadanya yang besar itu nempel di tubuh Randika, jurus macam apa ini!
Tapi mang Hannah ini luar biasa cantik. Bahkan kecantikannya mampu nandingi Inggrid, yang berbeda hanyalah sifat reka berdua. Inggrid lebih dewasa sedangkan Hannah masih kekanak-kanakan.
Randika lihat mata Hannah yang berbinar-binar di bawah wajahnya dan terpukau olehnya.
Serangan perempuan ini dahsyat!
"Iya cantik." Randika ngangguk, lalu marahinya. "Apa yang sedang kau rencanakan?"
"Tidak ada." Hannah lalu tersenyum nakal dicampur licik. "Barusan kau ngakuinya kan? Kau rabaku karena tidak tahan dengan kecantikanku! Aku akan cerita ini kepada kakak."
Apa!
"Eh kau yang nempelkan badanmu ke aku! Salahku di mana coba?" Randika marah karena dirinya rasa ditipu.
"Kau ngapain teriak-teriak?" Suara pelan muncul di belakang Randika. Inggrid lalu berdiri linglung ketika lihat adiknya. "Hannah?"
Inggrid benar-benar terkejut, ngapa adiknya bisa ada di sini?
"Kak!" Hannah langsung berlari untuk luk Inggrid, setelah itu dia bertanya. "Kak, kenapa kamu nikah tidak bilang-bilang?"
Ketika Inggrid ndengar hal ini, dia terkejut. Dia segera mikirkan berbagai macam jawaban di benaknya tetapi tidak bisa nemukan jawaban yang tepat.
"Tentu saja karena cinta kami itu sedang panas-panasnya. Kami sudah tidak sabar untuk nikah dan lakukannya begitu saja." Randika berusaha mbantu Inggrid.
"Asalkan kau tahu ya, kakakku ini super terkenal atas kecantikannya di negara ini. Bagaimana mungkin dia nikah dengan pria biasa sepertimu!" Hannah tersenyum ngejek ke Randika.
"Ganteng begini kau bilang biasa? Aku itu bukan pria sembarangan seperti reka-reka yang ada di luar sana tahu!"
"Kau cuma pria barbar yang sum, bukankah kau barusan lirik dadaku barusan?"
"Eh kau sendiri yang nunjukkannya!"
"Aku yang nunjukkannya?" Hannah tertawa, "Kak kau harus hati-hati terhadap pria ini. Kakak ipar itu hidung belang, jangan mau didominasi."
Hannah benar-benar tidak nahan diri untuk ngejek Randika.
Randika nggertakan giginya, adik iparnya ini mbuatnya njadi gila!
Inggrid ndengarkan semua ini dengan wajah tenang, dia sudah paham betul sifat adiknya ini. "Kamu kok tiba-tiba datang ke sini?"
"Aku bosan dan datang untuk bermain!" Kata Hannah sambil tersenyum.
lihat kedua kakak adik ini ngabaikan dirinya, Randika sedikit sedih. Dia lalu masang ekspresi cemberut sambil nunggu reka berdua selesai berbicara. Ketika Hannah hendak nuju kamarnya, dia noleh ke arah Randika sambil tersenyum bangga.
Baiklah kita sudah impas.
Randika lalu lihat Inggrid yang terlihat kelelahan.
"Kenapa kamu? Pusing?" Randika nghampirinya.
"Sedikit, terlalu banyak masalah di kantor. Aku jadi pusing karenanya." Randika lalu berbisik kecil di telinga Inggrid. "Datanglah ke kamarku, aku akan nyembuhkanmu."
"Ah!" Inggrid kaget ketika ndengarnya dan tersipu malu. "sum!"
"Ha bukannya wajar kalau aku ngkhawatirkanmu? Kita kan suami istri jadi kalau kita sekamar bukan masalah besar, atau kau ingin njelaskan pada adikmu kalau kita hanya kawin kontrak?"
ndengar kata-kata terakhir itu, Inggrid tersadar. Dia tidak boleh mbiarkan adiknya tahu bahwa dia hanya kawin kontrak dengan Randika. Bisa-bisa mulut embernya itu nceritakannya ke mana-mana.
Inggrid langsung ngangguk.
Randika sangat senang, berkat adik iparnya itu akhirnya dia bisa berduaan dengan Inggrid. Setelah reka masuk ke kamar, Hannah yang lihat reka berdua bergumam. "Bisa-bisanya kakak mau masuk ke kamar pria itu! Jangan-jangan reka beneran nikah."
ngingat sifat kakaknya itu, bisa-bisanya dia milih pria barbar seperti itu?
ngingat kejadian malukan tadi, Hannah njadi cemberut sekaligus marah.
Reviews
All reviews (0)