Di saat para pendaki itu berebut lihat Randika dari teropong reka, Randika di sisi lain terus manjat dengan cepat. Setelah berhasil nyerap 1/10 dari kekuatan misteriusnya, dia berhasil ndapatkan kekuatan yang sungguh luar biasa kuat. Dia sangat percaya diri bisa manjat tebing ini hingga ke puncak.
Saking cepatnya dia manjat, tidak butuh waktu lama untuk dia tiba di pohon yang dahannya dia patahkan sebelumnya.
lihat pohon ini, bisa dikatakan bahwa sebentar lagi puncak gunung itu akan terlihat.
Apa yang telah terjadi di puncak gunung pada saat itu tidak terlalu mbuat masalah besar. Kekuatan dari keluarga Alfred sudah nutupi kejadian itu dengan sempurna. Awalnya para pendaki yang rekam kejadian itu sudah mposting videonya di internet. Video itu berhasil viral dan mbuat heboh semua orang. Tetapi tanpa alasan yang diketahui, video itu nghilang tanpa jejak.
Di puncak gunung yang penuh dengan orang terlihat ada orang yang sedang bermain catur.
"Ah! Sialan, aku tidak nyangka kamu akan makan kudaku. Aku tidak lihat ratumu ada di situ."
"Kamu harus teliti skipun kondisimu itu terjebak." Kata seorang pria umur 50an.
"Hahaha aku mang tidak bisa ngalahkan mantan juara catur." Jawab anak muda yang njadi lawannya itu.
"Kalau begitu lebih aku nyerah saja pak." Pemuda itu ngangkat kedua tangannya.
"Jangan begitu, kalau kamu jalan yang benar kamu masih punya kesempatan untuk lawan balik."
Akhirnya setelah dibujuk oleh pria tua itu, pemuda itu kembali duduk. "Baiklah kalau begitu, biarkan aku berpikir sebentar."
Pemuda itu natap papan caturnya dengan sangat serius, langkah mana yang benar?
Jika dia maksa bentengnya untuk bergerak, rajanya akan terpojok dalam 3 langkah. Dia masih ingin berjuang untuk lepas dari keadaan terdesak ini.
Kemampuan keduanya dari awal mang jauh berbeda, pemuda itu hanya suka bermain catur dan bermain dengan nalurinya sedangkan lawannya ini mantan juara catur di kampungnya dan sudah nghafal segala macam taktik.
"Jangan nyerah, pikirkan saja dengan kepala dingin." Ketika pak tua itu rokok, tiba-tiba dari tepi tebing muncul sebuah tangan.
Randika lalu mbeli tiket pesawat yang keberangkatannya paling cepat. Setelah itu Randika langsung masuk ke dalam pesawat.
Tidak lama kemudian, pesawat yang dia naiki itu lepas landas. Setelah tanda sabuk pengaman sudah hilang, Randika langsung berdiri dan berjalan nuju kokpit pesawat.
"Pak, bisa tolong duduk dengan tenang? Apabila bapak perlu sesuatu, bapak tinggal bilang saja." Kata seorang pramugari pada Randika. Tetapi Randika ncuekinya dan terus berjalan ke depan.
Penumpang yang lain tidak mperhatikan Randika sama sekali, reka sibuk dengan urusan reka masing-masing.
"Pak? Pak!" Pramugari itu mulai khawatir lihat Randika sama sekali tidak njawab. Dia hanya bisa nghela napasnya.
Sesampainya Randika di bagian depan pesawat, polisi udara yang sedang nyamar itu sedang berbincang satu sama lain. Orang-orang mungkin tidak sadar bahwa setiap pesawat yang reka naiki ada beberapa penegak hukum yang nyamar di pesawat reka. Tugas reka adalah mastikan tidak ada kejahatan yang terjadi di dalam pesawat. Tetapi bagi Randika, orang-orang ini tidak lebih dari seekor serangga.
Tanpa dulikan reka, Randika terus bergerak nuju kokpit pesawat. Namun, para polisi itu nyadari pergerakan Randika.
"Permisi pak mau ke mana ya? Area depan sana dilarang untuk penumpang jadi lebih baik bapak kembali duduk." Kata seorang polisi sambil mperlihatkan identitasnya.
Ketiga polisi itu sebenarnya sudah gang pistol yang ada di pinggang reka. Akhir-akhir ini marak terjadi pembajakan pesawat, jadi mau tidak mau reka harus waspada dengan setiap ancaman.
Para penumpang yang lain juga nyadari kejadian ini dan njadi penasaran.
Randika tidak peduli, dia tetap berjalan nuju kokpit. Pada saat ini, salah satu dari ketiga polisi itu nodongkan pistolnya dan berteriak ke arah Randika. "Jangan bergerak atau akan kutembak kau!"
Kali ini para penumpang sudah panik tidak karuan, reka natap takut pada Randika. Randika tidak noleh sama sekali, dia tidak punya waktu untuk ladeni anjing-anjing ini. Sekarang di pikirannya hanya ada Inggrid. Selama dia berhasil tiba di Jakarta tepat waktu, dia akan nyelamatkannya.
Namun, entah karena gugup atau emosi yang lain, salah satu dari polisi ini nembakkan pistolnya. Suara tembakan yang nggema itu mbuat semua orang panik. Semuanya langsung runduk di tempat duduk reka.
Setelah suara tembakan itu nghilang, para polisi ini terkejut lihat Randika yang ada di hadapan reka ini sehat walafiat.
Tidak mungkin! Aku tidak mungkin leset!
Ketiga polisi itu saling mandang satu sama lain lalu akhirnya nerjang ke arah Randika.
Di bawah tatapan semua orang, para polisi itu sangat cepat dan terkoordinasi. reka nerjang ke arah Randika untuk nangkap teroris satu ini.
Namun pada saat ini, Randika hanya berbalik badan sebentar lalu berjalan kembali nuju kokpit. Para polisi yang hendak nerjang itu tiba-tiba terhenti dan tediam di tempat.
Setelah satu detik, ketiga polisi itu terjatuh dan pingsan!
Dalam satu detik, ketiga polisi yang mumpuni ini dapat dikalahkan oleh Randika dengan mudah.
Para penumpang itu semuanya terkejut, orang itu sangat kuat! Tetapi satu pertanyaan lain langsung nggenang di hati reka, apa yang hendak orang itu lakukan?
Apakah dia mau mbajak pesawat ini?
Dalam sekejap pertanyaan itu nuhi semua penumpang yang lihat aksi Randika sebelumnya.
"Berhenti!" Seorang bule berdiri dan natap tajam ke arah Randika.
Sama seperti para polisi tadi, Randika ngabaikannya dan tetap berjalan nuju kokpit. Dalam satu tarikan, Randika berhasil mbuka pintu khusus tersebut.
".."
Semua penumpang yang lihatnya sudah pasrah dalam hati, sepertinya reka telah salah milih pesawat.
Pintu kokpit pesawat didesain khusus oleh pihak penerbangan agar pesawat tidak mudah dibajak oleh orang-orang yang berniat buruk. Apabila pintu sudah dikunci dari dalam, sudah 100% mustahil untuk mbukanya dari luar. Namun, Randika dengan mudahnya mbuka pintu itu hanya dengan satu tangannya.
lihat aksi Randika satu ini, bule tadi langsung duduk sambil bersembunyi. Dia rasa sangat lega tidak berlari dan ncegah Randika, jika itu benar terjadi, dia tidak tahu kematian seperti apa yang nimpanya.
"Ya Tuhan, terima kasih telah nyelamatkan nyawaku!"
Randika sama sekali tidak peduli dengan para penumpang karena pikirannya sekarang tertuju pada para pilot pesawat!
Para pramugari sudah pada ketakutan di belakang, reka tidak mungkin bisa nghentikan teroris itu. Satu-satunya penyelamat reka yaitu ketiga polisi tadi itu masih pingsan tidak sadarkan diri.
Randika berjalan dengan santai nuju dalam kokpit di mana kedua pilot itu sedang ngendalikan pesawat.
Kapten pesawat dan wakilnya itu sudah natap Randika dengan tajam sejak pintu reka itu terbuka. reka hanya bisa tertegun sekaligus nekan rasa takut reka. Randika lalu berkata dengan nada seriusnya. "Bawa pesawat ini ke Jakarta."
"Siapa kamu? Kenapa kamu bisa masuk ke tempat ini? Apa kamu." Sebelum wakil kapten itu selesai berbicara, Randika sudah mukulnya hingga pingsan.
Hati si kapten pesawat itu langsung ngepal, dia tidak tahu harus berbuat apa. Lalu Randika cah keheningan dengan ngatakan. "Pindahkan jalur pesawat nuju Jakarta dan jangan buat aku ngulangi kata-kataku ini sekali lagi. Kalau kamu tetap tidak matuhi kata-kataku, aku akan njatuhkan pesawat ini."
Di bawah ancaman Randika, sang kapten tidak mpunyai pilihan selain ngganti jalur pesawat. Dia mang terlihat tenang tetapi dia sudah mberikan sinyal bahaya tersembunyi ke pusat nara.
Pada saat yang sama, pusat nara bandara Cendrawasih.
Setelah ndapatkan sinyal bahaya tersebut, pusat informasi lalu lintas udara ini langsung heboh.
"Apa? Pesawat kita ada yang dibajak lagi?"
Seorang pria paruh baya itu terlihat seakan-akan mau muntah darah. Pesawatnya yang nuju Jepang kapan hari baru saja dibajak dan sekarang sudah ada kasus ini lagi? Bisa-bisa dia dipecat karena mbiarkan teroris itu masuk ke dalam bandaranya.
Dalam sejarah dia bekerja, dia tidak pernah lihat kejadian yang tenggat waktunya berdekatan seperti ini.
"Bagaimana keadaannya sekarang?" Pria paruh baya itu nghampiri bawahannya. Keadaan sekarang kacau balau, semua orang njadi panik dan gugup.
"Kita telah ngunci lokasi pesawat dan masih mantaunya." Kata salah satu bawahannya.
"Apa ada cara untuk berkomunikasi dengan pilot pesawat?" Tanya si pria paruh baya.
"Tidak bisa, sepertinya pilot sedang disandera. Hmm? Jalur ini Pesawat ngubah arahnya nuju Jakarta!"
Setelah ndengar kata-kata ini, semua orang terkejut. Jakarta?
Semua personel penting berada di ruangan ini. ndengar kata Jakarta hati reka sudah ngepal bukan main. Apakah kejadian World Trade Center akan terulang di Indonesia? Apakah target reka adalah istana kepresidenan?
"Segera hubungi pihak kepolisian Jakarta." Pria paruh baya itu segera mbuang pikiran buruknya itu dan nenangkan dirinya.
Pada saat yang sama, dia juga rintahkan agar istana kepresidenan diberi kabar tentang pembajakan pesawat ini.
Untuk nangani masalah seperti ini, apalagi jika ngancam keselamatan sang presiden, pria paruh baya ini milih untuk main aman.
Di dalam pesawat, para penumpang masih duduk dengan tegang. reka hanya tahu bahwa kokpit pesawat reka sudah bukan dikendalikan oleh pilot pesawat reka.
Sedangkan Randika sejak awal tidak berniat mbahayakan para penumpang ini, fokusnya adalah keluarga Alfred di Jakarta itu. Sesampainya di Jakarta, dia akan mbunuh seluruh manusia-manusia busuk itu!
Reviews
All reviews (0)